catrawarta.com — Kabupaten Purworejo yang selama ini dianggap kota yang tenang dan konon menjadi kota para pensiun ternyata juga bisa menggeliat. Salah satunya melalui kegiatan budaya berupa Grebeg Purworejo 2026 yang baru saja digelar di depan Pendapa Kabupaten setempat.
Kegiatan unjuk seni tradisi tersebut mendapat sambutan hangat masyarakat. Apalagi kesenian yang dimucnulkan berasal dari 16 kecamatan yang ada di wilayah Purworejo. Grebeg budaya ini sekaligus dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno mengatakan, Grebeg Budaya ini menjadi wadah atau media setiap kecamatan menampilkan kekhasan seni dan budayanya masing-masing . “Setiap grup tampil sekitar 5–7 menit di depan panggung kehormatan dan dinilai oleh dewan juri, kemudian dilanjutkan kirab mengelilingi alun-alun,” jelasnya tentang grebeg tersebut.
Kirab
Rute kirab dimulai dari Pendapa Kabupaten Purworejo, SD Maria, Kantor Bupati, SMK Negeri 3 Purworejo, AD Mutiara Ibu, Dekranasda, dan berakhir di Garnisun Purworejo. Sepanjang rute, masyarakat disuguhi atraksi seni tradisional yang beragam dan menghibur.
Beberapa seni tradisi itu antara lain Cing Poling, Jaran Kepang, Dolalak, hingga sejumlah tari kreasi yang dikemas secara inovatif, sehingga menarik penonton.
Bupati Purworejo Yuli Hastuti menegaskan, Grebeg Budaya merupakan wujud komitmen bersama dalam melestarikan seni tradisi dan kearifan lokal yang menjadi jati diri masyarakat Purworejo. “Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan, persatuan, serta kebanggaan terhadap kekayaan budaya daerah,” ujarnya.
Bupati berharap, Grebeg Budaya dapat terus menjadi agenda budaya yang mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni tradisi, sekaligus memperkuat identitas masyarakat Purworejo.
Bagelen
Dari sejumlah literatur menyebutkan, Purworejo secara administrasi merupakan salah satu daerah kabupaten di Jawa Tengah bagian selatan. Kabupaten Purworejo menurut Koentjaraningrat termasuk ke dalam wilayah budaya Bagelen yang kaya dengan seni pertunjukan rakyat.
Bagelen pada abad XVIII menjadi wilayah Mataram yang disebut wilayah Negaragung, daerah inti kerajaan yang langsung diperintah dari pusat kerajaan. Kekayaan seni pertujukan rakyat di daerah Bagelen ditandai dengan adanya berbagai bentuk seni pertunjukan yang masih hidup dan berkembang di daerah tersebut. Setidaknya ada kurang lebih 30 bentuk seni pertunjukan rakyat yang berupa tari, musik dan teater.
Saat ini setidaknya terdapat sembilan bentuk seni pertunjukan rakyat yang sampai sekarang masih hidup dan berkembang di daerah Purworejo dan sering dimunculkan, yakni Dolalak, Ching Pho Ling, Kobrosiswa, Kuda Kepang, Kuntulan, Madya Pitutur, Samanan, Kemprang, dan Slawatan.
Dari bentuk-bentuk yang telah disebutkan, Dolalak merupakan kesenian yang paling menonjol dan berkembang pesat. Kondisi ini ditandai dengan jumlah kelompok atau perkumpulan Dolalak terus merebak.

Hentikan Kekerasan, Merusak Masa Depan Papua 