Catra Milenia

Dari FOMO ke JOMO: Saat Gen Z Mulai Menikmati Tidak Ikut-ikutan

catrawarta.com — Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang selama ini identik dengan generasi muda mulai menunjukkan pergeseran. Di tengah arus informasi...

Ilustrasi gen z
Ilustrasi Gen Z.

catrawarta.comFenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang selama ini identik dengan generasi muda mulai menunjukkan pergeseran. Di tengah arus informasi dan aktivitas sosial yang cepat, sebagian Gen Z justru memilih untuk “tidak ikut”—dan merasa baik-baik saja. Perubahan ini dikenal sebagai Joy of Missing Out (JOMO), yaitu kondisi ketika seseorang dengan sadar memilih untuk tidak terlibat dalam tren, acara, atau aktivitas tertentu demi menjaga kenyamanan diri.

Laporan Deloitte dalam Global Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa tekanan sosial dan digital menjadi salah satu faktor utama stres pada generasi muda. Dalam konteks ini, munculnya JOMO dipahami sebagai bentuk respons terhadap kelelahan tersebut.

Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Percakapan di media sosial menunjukkan semakin banyak anak muda yang memilih membatasi interaksi digital, mengurangi kehadiran di acara sosial, hingga lebih selektif dalam mengikuti tren.

Nadia (21), mahasiswa di Jakarta, mengaku tidak lagi merasa harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai.

“Dulu takut banget ketinggalan. Sekarang justru lebih nyaman kalau nggak ikut semuanya,” ujarnya.


Antara Tekanan Sosial dan Pilihan Personal

(Analisis) FOMO selama ini lahir dari satu hal: perbandingan.

Media sosial memperlihatkan potongan kehidupan orang lain—yang sering kali terlihat lebih menarik, lebih sukses, atau lebih menyenangkan. Hal ini mendorong dorongan untuk ikut, agar tidak merasa tertinggal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tekanan tersebut mulai terasa berlebihan.

Gen Z yang tumbuh di era digital justru menjadi generasi yang paling cepat menyadari dampaknya. Kelelahan mental, distraksi, hingga rasa tidak puas yang terus muncul mendorong sebagian dari mereka mengambil jarak.

Di titik ini, JOMO muncul bukan sebagai tren, tetapi sebagai bentuk kontrol.
Bukan berarti tidak peduli, tetapi memilih apa yang perlu diikuti.

Perubahan ini menunjukkan pergeseran cara pandang: dari mengikuti arus → menjadi lebih selektif.
Dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk “tidak ikut” justru menjadi bentuk kesadaran baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *