catrawarta.com — Ada yang menarik dalam acara halalbihalal Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta. Para pimpinan ulama mengenaan syal Palestina. Hal itu menjadi penegasan politik yang kuat, dukungan tanpa batas terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.
Ketua Umum MUI, KH M Anwar Iskandar menegaskan syal tersebut bukan sekadar aksesori kain putih berlogo bendera. Baginya, setiap pertemuan MUI adalah momentum untuk mempertegas solidaritas kemanusiaan dan keberpihakan terhadap penderitaan warga di Gaza yang hingga kini masih terus bergejolak.
Dikutip dari mui.or.id, ulama kharismatik asal Kediri itu menyerukan agar umat Islam dan seluruh elemen bangsa tidak ragu menunjukkan identitas pembelaan terhadap Palestina. Ia menekankan apa yang dirasakan bangsa Palestina merupakan duka yang juga dialami oleh bangsa Indonesia secara emosional dan spiritual.
Kiai Anwar optimistius pertolongan Tuhan akan segera menghampiri bangsa Palestina. Dalam orasinya, ia menjelaskan Islam melarang permusuhan terhadap siapa pun, kecuali terhadap mereka yang melakukan kezaliman dan penjajahan yang merenggut hak hidup manusia.
Fondasi Kemajuan Bangsa
Di sisi lain, Kiai Anwar turut menyoroti fondasi kemajuan bangsa yang harus berpijak pada nilai agama. Ia memberikan analogi keras bahwa penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan tanpa ruh agama hanya akan melahirkan kemajuan yang semu dan kehilangan kemanusiaan.
Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan Tuhan dan para rasul adalah nyawa dari kehidupan bernegara. Ia mengingatkan keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya diukur dari angka ekonomi, tetapi juga dari tegaknya etika dan moralitas para pemimpin serta rakyatnya.
Terkait hubungan antarmanusia, ia mengatakan hakikat persaudaraan universal. Mengutip pesan Rasulullah SAW, ia menegaskan tidak ada keunggulan satu ras atau suku di atas lainnya, kecuali berdasarkan tingkat ketakwaan dan kontribusi nyata bagi kedamaian.
Jauhi Konflik Destruktif
Ia menyerukan agar masyarakat kembali ke fitrah untuk hidup dalam harmoni dan menjauhi konflik destruktif. Perbedaan ormas, latar belakang suku, hingga perbedaan waktu hari raya ditekankan jangan sampai merusak konsensus nasional untuk membangun kesejahteraan bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Anwar mengajak para ulama dan pemimpin bangsa untuk mengedepankan budaya musyawarah serta tolong-menolong. Ia menolak keras praktik caci maki yang dapat mengikis muruah bangsa dan menjauhkan Indonesia dari rida Tuhan.
Acara bertajuk “Bersatu dalam Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia” ini dihadiri tokoh lintas sektor, para pejabat dan lainnya.

Atasi Kemunduran Demokrasi, Perlu Pembaruan Sistem Kepartaian 