Catra Milenia

Kala Anak Panti Abadikan ‘Foto Keluarga’ Mereka, dari Orang Lain Menjadi Saudara

catrawarta.com — Anak-anak panti asuhan punya cara unik untuk merekatkan hati satu sama lain. Berawal dari orang lain, mereka kini menjadi saudara...

FOTO: Anak-anak panti asuhan mengabadikan kebersamaan.(Sumber: ist )

catrawarta.comAnak-anak panti asuhan punya cara unik untuk merekatkan hati satu sama lain. Berawal dari orang lain, mereka kini menjadi saudara bahkan kerabat.

Kehangatan itu singgah terlihat pada tiga panti asuhan Jakarta melalui program Fujifilm bertajuk ”First Family Photo”. Bagi banyak anak asuh, ini bukan sekadar urusan jepret-menjepret, melainkan momen bersejarah memiliki foto keluarga pertama dengan orang-orang terkasih di panti.

Di Yayasan Daarul Berkah Rahman, Jagakarsa, keriuhan pecah saat kamera instax mulai dibagikan. Mereka menyambut dengan tawa, tatapan penuh rasa ingin tahu saat selembar film perlahan keluar dari kamera. Untuk pertama kalinya, mereka melihat wajah sendiri dan sahabatnya muncul di atas kertas fisik.

”Ini pengalaman pertama mereka bisa pegang kamera dan langsung dapat hasilnya. Suatu saat ketika mereka berpisah, foto ini akan jadi kenangan berharga,” tutur Annisa Novitasari, ibu asuh di yayasan tersebut.

Semua Foto Sangat Berharga

Momen sederhana di panti seketika berubah menjadi sangat personal. Anak-anak mulai sibuk memilih siapa yang layak masuk dalam bingkai, teman sekamar yang sering berbagi duka, sahabat bermain, hingga ibu asuh yang sudah dianggap sebagai orang tua kandung sendiri.

Seorang anak bernama Shafa , siswi kelas 8, tampak memandangi hasil fotonya dengan bangga. Ia menyebut foto pertama bersama teman-teman sangat langka. Sehingga, ia mengatakan foto tersebut sangat berharga.

Di Panti Asuhan Nurul Iman Mentas, Menteng Atas sedikit berbeda. Dengan akses ponsel yang terbatas, foto fisik menjadi satu-satunya cara bagi mereka untuk menyimpan kenangan visual. Di sini, selembar foto punya nilai yang jauh lebih mewah daripada ribuan file di memori digital.

”Foto itu kan memori. Saya rasa mereka akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan ketika sudah besar nanti,” ujar Budi Sulistio, Sekretaris Panti Asuhan Nurul Iman Mentas.

Baginya, kegiatan ini memberi identitas visual bagi masa kecil anak-anak asuh yang sering kali luput dari dokumentasi.

Bisa Jadi Kenangan Terindah

Tahara, penghuni panti mengungkapkan sudah punya rencana besar untuk hasil fotonya. Ia berencana menempel foto di tembok sebagai kenangan. Foto itu juga akan dipajang dekat kasur agar bisa terus terlihat.

Bagi Ahmad Syacfuan yang juga penghuni panti, selembar foto instax adalah pesan untuk dirinya di masa depan. Ia akan selalu ingat pernah mempunyai teman-teman yang saling perhatian. Foto tersebut menjadi pengingat bahwa keluarga tidak selalu soal pertalian darah, tapi tentang siapa yang hadir saat mereka bertumbuh.

Program penuh empati itu berlangsung melalui penjualan artbook Instaxnesia, sebuah kolaborasi kreatif 35 seniman Indonesia. Tak hanya membagikan pengalaman fotografi, Fujifilm juga menyalurkan bantuan sembako dan perlengkapan sekolah ke panti-panti seperti Aisyiyah Tahfidz Quran.

Presiden Direktur Fujifilm Indonesia, Masato Yamamoto, menegaskan fotografi punya kekuatan untuk memvalidasi keberadaan seseorang. Ia ingin memastikan setiap anak memiliki bukti mereka dicintai dan menjadi bagian dari sebuah keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *