Warta

Korban Bencana Berhak Hidup Layak, Sebentar Lagi Hunian Rampung

catrawarta.com — Korban bencana Sumatra sebagian besar sudah memasuki hunian sementara. Namun untuk hunian tetap masih belum rampung. Pemerintah berusaha menyelesaikan secara...

RUMAH: Hunian tetap yang sudah selesai dan bakal menjadi rumah korban bencana Sumatra.(Sumber: kemendagri)

catrawarta.comKorban bencana Sumatra sebagian besar sudah memasuki hunian sementara. Namun untuk hunian tetap masih belum rampung. Pemerintah berusaha menyelesaikan secara cepat karena pergantian musim dan Godzilla El Nino mengancam.

Karena itu, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera terus memacu pembangunan hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara) secara masif.

Langkah strategis tersebut diambil guna menjamin ketersediaan tempat tinggal yang layak bagi para penyintas bencana hidrometeorologi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian menjelaskan berdasarkan data Satgas PRR per 3 April 2026, tercatat sebanyak 230 unit huntap telah rampung dari total rencana 35.368 unit, dengan 1.240 unit lainnya sedang dalam proses pengerjaan.

Aceh memimpin progres dengan 104 unit selesai, disusul Sumatera Utara sebanyak 120 unit, sementara Sumatera Barat baru menyelesaikan 6 unit namun memiliki 441 unit yang tengah dikonstruksi.

Siap Jadi Persinggahan

Sejalan dengan pembangunan permanen, pengadaan huntara juga menunjukkan progres menggembirakan untuk memastikan pengungsi tidak lagi bertahan di tenda darurat. Hingga awal April, sebanyak 17.084 unit huntara atau sekitar 89 persen dari target total 19.135 unit telah selesai dibangun dan siap menjadi persinggahan sementara yang manusiawi.

Aceh kembali mencatatkan angka tertinggi dengan 15.259 unit huntara rampung, mencapai progres 88 persen dari target wilayah. Sementara itu, Sumatera Utara telah menyelesaikan 995 unit atau mencapai 97 persen, dan Sumatera Barat mencatatkan prestasi dengan menuntaskan seluruh pembangunan 830 unit huntara yang direncanakan.

Bagi korban yang memilih tidak tinggal di huntara, Satgas PRR memberikan dukungan finansial berupa Dana Tunggu Hunian (DTH). Skema bantuan ini menyalurkan Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan, sehingga setiap kepala keluarga menerima total Rp 1,8 juta sebagai subsidi biaya sewa tempat tinggal sementara.

Penyaluran DTH telah mencapai angka sempurna yakni 100 persen melalui transfer langsung ke rekening 14.021 penerima di tiga provinsi. Rinciannya mencakup 8.099 penerima di Aceh, 4.162 di Sumatera Utara, dan 1.760 di Sumatera Barat, yang seluruhnya telah menerima hak mereka secara utuh.

Akurasi Pendataan Daerah

Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa kecepatan pembangunan huntap sangat bergantung pada akurasi pendataan di tingkat daerah. Ia meminta para bupati dan wali kota untuk membentuk tim kecil guna memvalidasi data kerusakan rumah dan memetakan preferensi masyarakat penerima manfaat.

Ada dua skema huntap yang ditawarkan, yakni skema in situ melalui stimulan senilai Rp60 juta bagi yang membangun di lokasi semula, atau relokasi ke kawasan komunal. Validasi tersebut krusial agar pembangunan yang dikerjakan oleh pemerintah maupun BNPB tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan para penyintas.

Progres nyata juga terlihat di Desa Lubuk Sidup, Kabupaten Aceh Tamiang. Sebanyak 163 unit huntara hampir rampung sepenuhnya. Dalam kunjungannya pada Sabtu (4/4/2026), Tito menyatakan fasilitas fisik dan jaringan listrik sudah siap, sementara ketersediaan air bersih tengah dikebut melalui pembangunan sumur bor oleh BNPB.

Seluruh fasilitas penunjang di Lubuk Sidup ditargetkan tuntas dalam 10 hari ke depan agar masyarakat bisa segera pindah. Hal ini sebagai titik awal yang penting bagi para korban bencana untuk memulai kehidupan baru di lingkungan yang lebih aman dan terintegrasi dengan layanan publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *