Catra Wisata

Syawalan ‘Yayasan Dunia Tak Lagi Sunyi’, Tanpa Suara Penuh Makna

catrawarta.com — Pagi itu, suasana Benteng Vredeburg terasa berbeda dari biasanya. Di antara dinding bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang bangsa, puluhan...

Anak-anak berkebutuhan khusus dari disabilitas tuli terlihat riang ketika mengunjungi Beteng Vredeburg Yogyakarta. (Istimewa)

catrawarta.comPagi itu, suasana Benteng Vredeburg terasa berbeda dari biasanya. Di antara dinding bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang bangsa, puluhan anak tuli tampak berkeliling dengan penuh antusias. Senyum mereka mengembang, sesekali diiringi bahasa isyarat yang lincah seolah bercerita tanpa suara, namun penuh makna.

 Minggu (5/4/2026), Yayasan Dunia Tak Lagi Sunyi (DTLS) Indonesia menggelar syawalan yang tak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Momentum ini juga dirangkai dengan peringatan World Hearing Day 2026, menghadirkan perpaduan hangat antara kebersamaan, edukasi, dan kepedulian kesehatan.

Di salah satu sudut area, kegiatan Bersih-Bersih Telinga (BBT) berlangsung. Dengan sabar, para dokter spesialis THT dari PGPKT DIY memeriksa satu per satu anak yang datang. Tak hanya anak-anak, beberapa  beberapa anggota keluarga pun ikut, menunjukkan,  perhatian terhadap kesehatan pendengaran adalah urusan bersama.

Akses Gratis

Ketua Yayasan DTLS Indonesia, Nana Nawangsari, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pengelola museum. Bukan tanpa alasan, karena mereka mendapatkan akses gratis yang diberikan kepada peserta disabilitas beserta pendamping menjadi bentuk nyata dukungan terhadap inklusivitas.

“Tidak hanya peserta disabilitas, tapi pendamping juga mendapatkan akses gratis. Ini tentu sangat kami apresiasi,” ujarnya.

Pemilihan lokasi di Benteng Vredeburg juga bukan kebetulan. Di tempat ini, anak-anak tidak hanya berkumpul, tetapi juga belajar. Dengan pendampingan dan panduan khusus, mereka diajak menyusuri lorong-lorong sejarah, memahami cerita masa lalu bangsa dengan cara yang ramah bagi mereka.

Meski tanpa suara, pengalaman itu terasa begitu hidup. Gerakan tangan, ekspresi wajah dan interaksi hangat menjadi bahasa yang menyatukan semuanya.

Syawalan kali ini menjadi bukti, keterbatasan bukanlah penghalang untuk belajar, berbagi dan merayakan kebersamaan. Di tengah sunyi yang mereka miliki, justru tercipta ruang yang penuh makna. Ruang di mana sejarah, kesehatan dan kemanusiaan bertemu dalam harmoni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *