Catra Cendekia

Literasi Digital dan Pendidikan Karakter Jadi Benteng Cegah Radikalisme pada Anak

catrawarta.com — Upaya mencegah berkembangnya paham radikalisme pada anak perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan karakter dan literasi digital. Pendekatan ini dinilai...

Ilustrasi anak anak belajar nilai toleransi dan literasi digital
Ilustrasi anak-anak belajar nilai toleransi dan literasi digital.

catrawarta.comUpaya mencegah berkembangnya paham radikalisme pada anak perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan karakter dan literasi digital. Pendekatan ini dinilai penting untuk menumbuhkan sikap kritis, demokratis, serta menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Ketua Atmawidya Alterasi Indonesia, Titok Hariyanto, menilai radikalisme dalam arti negatif kerap berakar dari fanatisme sempit dan sikap intoleran terhadap perbedaan. Karena itu, pendidikan anak perlu diarahkan untuk membangun nilai-nilai humanis dan egaliter.

Menurutnya, menanamkan sikap menghargai perbedaan pada anak tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau nasihat verbal semata. Nilai tersebut harus dilatih secara berkelanjutan melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak perlu dibiasakan menyelesaikan persoalan secara bersama melalui dialog, mencari solusi tanpa dominasi satu pihak terhadap pihak lain,” ujar Titok.

Pada tingkat sekolah dasar, misalnya, anak dapat dilatih bekerja sama memecahkan masalah kelompok. Proses ini membantu mereka memahami pentingnya musyawarah serta menghargai sudut pandang yang berbeda.

Selain itu, anak juga perlu dilatih mengembangkan empati. Salah satunya dengan mengajak mereka merasakan kesedihan orang lain, misalnya ketika seseorang kehilangan barang miliknya. Melalui proses tersebut, anak belajar membangun sikap tepa selira, welas asih, dan reflektif terhadap orang lain.

Tantangan Ruang Digital

Di sisi lain, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan karakter anak. Ruang digital saat ini menjadi arena interaksi tanpa batas geografis yang mempertemukan berbagai budaya dan standar etika.

“Setiap wilayah memiliki nilai budaya dan etika yang berbeda. Ketika bertemu di ruang digital, potensi benturan nilai bisa terjadi,” kata Titok.

Karena itu, literasi digital menjadi kunci penting agar anak mampu memahami karakter ruang digital yang plural. Dengan pemahaman tersebut, mereka diharapkan dapat berkomunikasi secara bijak dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi ekstrem atau intoleran.

Anak juga perlu dilatih untuk memiliki kemampuan menyadari, mempertimbangkan, dan merasionalkan informasi yang mereka temui di ruang digital. Kemampuan ini membantu mereka menyesuaikan diri dengan perbedaan serta menjaga interaksi tetap sehat dan konstruktif.

Titok menegaskan bahwa ruang digital seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana membangun kebaikan bersama, sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

“Melalui literasi digital dan pendidikan karakter yang konsisten, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kritis, demokratis, dan menghargai keberagaman,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *