Warta

Anies Baswedan: Banyak Pemimpin Gagal Mendengar Jeritan Rakyat

catrawarta.com — ”Banyak pemimpin gagal membuat kebijakan. Bahkan, gagal mendengar jeritan rakyat,” tandas Anies Baswedan. Ia menegaskan pernyataannya tersebut dalam ceramah tarawih...

KRITIS: Anies Baswedan mengajak mahasiswa berpikir kritis, membaca situasi secara jernih.(Sumber: Mahasiswa Muslim Biologi)

catrawarta.com ”Banyak pemimpin gagal membuat kebijakan. Bahkan, gagal mendengar jeritan rakyat,” tandas Anies Baswedan.

Ia menegaskan pernyataannya tersebut dalam ceramah tarawih di Masjid Al Hayat, Fakultas Biologi UGM. Di depan jamaah yang sebagian besar mahasiswa, ia mengungkapkan pada era keberlimpahan informasi, tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi keterbatasan akses pada teks, tetapi kedangkalan memaknai realitas.

Menurutnya, masalah utama bangsa Indonesia saat ini bukan kurang informasi, melainkan krisis kejernihan dalam mencerna. Ia memaparkan analisis yang mengelompokkan buta huruf menjadi dua golongan.

”Pada golongan pertama, buta huruf karena gagal membaca teks. Ada juga golongan yang sangat lancar membaca tulisan, tapi gagal membaca kenyataan,” ungkap Anies.

Karena itulah, jelasnya, Islam memantik umat manusia untuk membangun peradaban mulai dengan memahami. Manusia diminta untuk menjadi khalifah, tapi pesan itu diawali dengan melihatlah dan membacalah dengan jernih.

Mengasah Empati dan Ketajaman

Berbicara dengan segara kekritisannya, Anies mengajak jamaah untuk memperluas cakrawala Iqra melampaui literasi tekstual. Baginya, Iqra harus diposisikan sebagai instrumen mengasah empati dan ketajaman nurani dalam melihat keadaan.

Dalam konteks kampus, tanggung jawab tersebut menjadi lebih besar. Menurutnya, mahasiswa mendapat kesempatan untuk berpikir kritis sembari menguji gagasan, serta menyampaikan pandangan dengan jernih dan berani.

Ia menegaskan, kampus seharusnya menjadi rumah bagi pertanyaan, bukan pabrik kepatuhan. Kampus menjadi ruangan eksperimen, bukan gudang menyimpan ilmu masa lalu.

”Karena itu, harus membiasakan unsur di dalamnya bukan hanya menghafal. Jika hanya sebatas menghafal, maka roh iqra belum hidup,” tandasnya.

Kesempatan Melampaui Zaman

Perintah iqra bagi anak muda, jelas Anies, merupakan sebuah kesempatan besar melampaui zaman. Ia mengajak mahasiswa iqra untuk menangkap fenomena sosial sehingga mampu melahirkan gagasan yang relevan dengan perubahan dunia.

Baginya, daya kritis anak muda adalah kunci bagi lahirnya inovasi. Anak muda harus memandang ke depan, membawa kebaruan sudut pandang, dan pertanyaaan.

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu kembali memberikan contoh bahwa iqra bukan sebatas membaca huruf melainkan menangkap fenomena sosial, terutama hal yang terjadi pada rakyat kecil.

”Jangan mau membaca kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan dari ruang konferensi pers. Akan tetapi, membacalah dari dapur keluarga, dari antrian berobat, dan dari kecemasan orang tua saat menunggu pulang anaknya bersekolah,” tandas Anies.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *