Warta

Jangan Lewatkan Gerhana Bulan Total, Akan Terjadi Lagi Tahun 2044

catrawarta.com — Gerhana bulan langka bakal terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026. Ini merupakan salah satu fenomena astronomi paling menakjubkan di muka...

Ilustrasi : Gerhana bulan langka bakal terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026.

catrawarta.comGerhana bulan langka bakal terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026. Ini merupakan salah satu fenomena astronomi paling menakjubkan di muka bumi. Seluruh masyarakat Indonesia bisa menyaksikan kejadian yang belum tentu setiap saat berlangsung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Gerhana Bulan Total (GBT) terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026 dan dapat dilihat secara langsung dari berbagai wilayah di Indonesia.

”Gerhana bulan terjadi akibat dinamisnya posisi matahari, bumi, dan bulan, yang hanya terjadi pada saat fase bulan purnama. Gerhana Bulan Total secara spesifik terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis sejajar,” papar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama.

Kondisi tersebut membuat bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) bumi. Fenomena ini menyajikan pemandangan yang indah. Jika langit cerah, bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana terjadi.

Fase Gerhana Cukup Lama

Nelly menjelaskan, durasi gerhana dari fase gerhana mulai hingga gerhana berakhir akan memakan waktu 5 jam 41 menit 51 detik. Durasi parsialitasnya berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik sedangkan fase totalitas, bulan benar-benar berada dalam bayangan umbra bumi, akan berlangsung selama 59 menit 27 detik.

Ia menyampaikan, apabila kondisi langit cerah, masyarakat dapat melihat bulan berubah warna menjadi merah saat puncak gerhana terjadi.

Warna merah merupakan hasil dari hamburan Rayleigh di atmosfer bumi, ketika cahaya matahari dengan panjang gelombang pendek (biru) tersebar, sementara cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah) lolos mencapai permukaan bulan.

Timur Indonesia Lebih Baik

Berdasarkan data BMKG, Gerhana Bulan Total akan mulai pukul 18.03.56 WIB dan mencapai puncak gerhana pada pukul 18.33.39 WIB, 19.33.39 WITA, dan 20.33.39 WIT.

”Pengamatan di wilayah Timur Indonesia memiliki visibilitas yang lebih baik karena dapat mengamati fase-fase awal gerhana saat bulan terbit. Sebaliknya, untuk wilayah Barat Indonesia, gerhana akan ditemukan dalam kondisi sudah berlangsung (fase totalitas atau puncak) sesaat setelah bulan terbit,” papar Plt Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu, Fachri Radjab.

Fenomena tersebut akan benar-benar berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB atau tengah malam di wilayah WIT, saat bulan keluar dari bayangan penumbra bumi. Masyarakat sebaiknya mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang cerah ke arah terbitnya bulan.

Empat Kali Gerhana

Fachri menambahkan, tahun 2026 akan ada empat kali gerhana, yaitu dua kali gerhana matahari dan dua kali gerhana bulan. Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari seluruh Indonesia.

Secara astronomis, gerhana tersebut merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota pada seri Saros 133. Fenomena ini sebelumnya pernah terjadi pada 21 Februari 2008 dan diprediksi akan kembali berasosiasi pada 13 Maret 2044 mendatang.

”Kami berkomitmen untuk terus memberikan informasi tanda waktu dan fenomena astronomi secara akurat kepada publik. Silakan nikmati fenomena GBT dengan tetap memperhatikan informasi cuaca setempat dari kanal resmi BMKG,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *