catrawarta.com — Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Panglima ABRI (waktu itu) dan Wakil Presiden Try Sutrisno meninggal dunia. Sosok tersebut merupakan teladan kebangsaan dan kenegarawanan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengungkapkan hal itu ketika menyampaikan duka cita yang mendalam. Ia menilai almarhum sebagai tokoh bangsa yang memiliki daya juang tinggi dalam urusan kebangsaan dan kenegaraan. Sepanjang kiprahnya, Try Sutrisno dikenal sebagai figur yang menempatkan kepentingan Indonesia di atas segalanya.
”Beliau tokoh yang memiliki daya juang tinggi dalam hal kebangsaan dan kenegaraan. Bahkan ketika ada masalah serius tentang Indonesia, setelah purna tugas, beliau tidak segan datang menemui saya di Kantor PP Muhammadiyah di Menteng, Jakarta, untuk mendiskusikannya,” ungkap Haedar mengenang kisah dengan Try Sutrisno.
Tanggung Jawab sebagai Negarawan
Haedar mengatakan, komitmen dan kepedulian almarhum pada nasib bangsa tidak berhenti saat tidak lagi menjabat. Semangat tanggung jawab sebagai negarawan tetap melekat, tercermin dari kesediaannya berdialog dan bertukar pikiran demi kebaikan Indonesia.
”Generasi muda penting meneladani jiwa kebangsaan yang tinggi dari almarhum Try Sutrisno. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, butuh sosok-sosok yang memiliki integritas, ketulusan, dan komitmen kuat terhadap keutuhan serta kemajuan negara,” tandasnya.
Ia sekali lagi menyatakan atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan seluruh jajarannya, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.
Try Sutrisno merupakan tentara yang pernah menjabat Panglima ABRI di era Orde Baru kemudian menjadi Wakil Presiden. Ia lahir di Surabaya 15 November 1935 dan meninggal 2 Maret 2026 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Meskipun sudah purna, ia masih menyumbangkan pikiran dan tenaga kepada Indonesia. Sosoknya terkenal kritis, tak gentar menyuarakan kebenaran.

Penurunan Kemiskinan Ekstrem Nol Persen, Dapatkah Tercapai? 