Pena Catra

Harga Diri Bangsa Tidak Bisa Ditukar Ancaman

catrawarta.com — Saling berbalas dentuman rudal antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 28 Februari adalah babak baru ketegangan geopolitik Timur Tengah....

Ilustrasi Perlawanan Rakyat Iran dengan spirit agama. Sumber: catrawarta

catrawarta.comSaling berbalas dentuman rudal antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 28 Februari adalah babak baru ketegangan geopolitik Timur Tengah. Dunia kembali menyaksikan eskalasi yang selama ini hanya di ambang perang terbuka.  Di tengah situasi itu, satu hal mencuri perhatian yaitu sikap Iran yang tidak menunjukkan gentar sedikit pun.

Mengapa Iran begitu berani?  Ini tidak bisa dijawab hanya dengan kalkulasi militer. Jawabannya berakar pada sejarah, ideologi, dan konstruksi sosial-budaya yang telah ditempa selama puluhan tahun. 

Sejak Revolusi Islam 1979 yang dipimpin Ayatollah Khomenei, Iran mendefinisikan dirinya sebagai negara yang berdiri berseberangan dengan hegemoni Barat. Revolusi itu bukan sekadar pergantian rezim. Revolusi adalah deklarasi kemerdekaan politik dan ideologis dari dominasi asing. Sejak saat itu pula, embargo dan sanksi dari Amerika menjadi bagian dari keseharian Republik Islam.

Alih-alih runtuh, Iran justru beradaptasi. Tekanan ekonomi mendorong kemandirian industri. Isolasi politik melahirkan solidaritas internal. Narasi perlawanan menjadi energi kolektif yang terus dipupuk.

Di bawah kepemimpinan Ali Khomenei, sistem yang diwariskan Khomenei tetap solid. Struktur Wilayat al-Faqih memastikan kesinambungan ideologis negara. Perbedaan politik internal memang ada, tetapi dalam menghadapi ancaman eksternal, elite Iran relatif kompak.

Lebih dalam lagi, keberanian Iran tidak bisa dilepaskan dari dimensi kultural Syiah yang dominan di negeri itu. Tragedi Karbala dan spirit Imam Husain melawan tirani bukan sekadar kisah sejarah. Ia menjadi paradigma moral: melawan ketidakadilan adalah kewajiban, meski berisiko pengorbanan besar.

Dalam bingkai ini, konflik dengan Israel dan Amerika tidak diposisikan semata-mata sebagai perang antarnegara, melainkan sebagai perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai kezaliman global. Narasi inilah yang menguatkan legitimasi moral di mata pendukungnya.

Namun kita juga perlu jernih membaca realitas. Keberanian yang ditampilkan Teheran bukan tanpa perhitungan. Dalam politik internasional, retorika tegas sering menjadi instrumen deterrence — daya tangkal agar lawan berpikir ulang sebelum melangkah lebih jauh.

Iran memahami bahwa menghadapi Amerika secara frontal adalah risiko besar. Tetapi Iran juga tahu, menunjukkan kelemahan bisa membuka pintu tekanan yang lebih dahsyat.

Di sisi lain, keberanian Iran mencerminkan krisis kepemimpinan global yang lebih luas. Ketika dialog dan diplomasi gagal menjadi pilihan utama, yang berbicara adalah senjata. Dunia kembali berada dalam logika konfrontasi, bukan kolaborasi.

Tajuk ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan perang. Sebaliknya, kita harus menegaskan bahwa konflik terbuka hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat sipil di kawasan. Tidak ada kemenangan sejati dalam perang modern; yang ada hanyalah kehancuran yang diwariskan lintas generasi.

Namun memahami Iran berarti memahami bahwa bagi mereka, harga diri bangsa bukan komoditas yang bisa ditukar dengan ancaman. Empat dekade embargo tidak meruntuhkan republik itu. Tekanan militer pun tampaknya tidak otomatis membuat mereka mundur.

Pertanyaannya kini: apakah dunia akan membiarkan keberanian dan keangkuhan saling berhadapan tanpa rem? Ataukah masih ada ruang bagi diplomasi yang bermartabat?

Sejarah mengajarkan, perang mudah dimulai tetapi sulit dihentikan. Dan ketika api sudah menyala, tak ada yang benar-benar keluar sebagai pemenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *