Catra Milenia, Warta

Membaca Dinamika Emosi Mahasiswa dari Insiden Pembacokan di Kampus, Kenapa Bisa Senekat Itu?

catrawarta.com — Insiden pembacokan yang terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Riau pada Kamis pagi pekan ini...

Potongan gambar video yang menampilkan pembacokan di depan ruang sidang uin suska riau kamis 26 februari 2026
Potongan gambar dari video yang menampilkan pembacokan di depan ruang sidang UIN Suska Riau, Kamis, 26 Februari 2026.

catrawarta.comInsiden pembacokan yang terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Riau pada Kamis pagi pekan ini mencuri perhatian publik karena dilakukan oleh seorang mahasiswa terhadap rekannya sendiri yang sedang menunggu sidang skripsi. Peristiwa ini, yang menurut polisi bermotif cinta tak berbalas dan sakit hati, mengundang pertanyaan mendasar tentang bagaimana pengalaman emosional intens dapat berubah menjadi tindakan ekstrem di usia muda — terutama di lingkungan pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi ruang tumbuh kembang intelektual dan sosial.

Kejadian itu terjadi pada sekitar pukul 08.30 WIB di lantai dua Fakultas Syariat dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau. Pelaku, seorang mahasiswa berusia 21 tahun, tiba-tiba menyerang korban perempuan berusia 23 tahun dengan senjata tajam hingga mengalami luka serius yang menyebabkan operasi medis. Polisi yang datang segera mengamankan pelaku, yang kini resmi ditahan dan dijerat dengan pasal pidana penganiayaan.

Luka hati yang disinggung sebagai alasan awal tindakan tersebut bukanlah sekadar ungkapan biasa. Dokter spesialis kesehatan jiwa menjelaskan bahwa emosi intens seperti sakit hati tidak muncul sembari lalu; ia merupakan hasil akumulasi pengalaman dan interpretasi subjektif atas kejadian yang dirasakan melukai harga diri atau hubungan sosial seseorang. Kondisi ini dapat memicu proses mental seperti ruminasi—kecenderungan untuk terus mengulang pikiran negatif—yang justru memperkuat keterikatan emosional pada pengalaman tersebut, bukan melepaskannya.

Psikolog klinis menambahkan bahwa faktor psikologis yang lebih kompleks seringkali turut berperan dalam perilaku ekstrem. Ketika seseorang tidak memiliki kemampuan yang matang untuk mengatur emosi, lalu melihat penolakan sebagai ancaman terhadap harga diri dan identitas personal, respons yang muncul bisa jauh melampaui ekspresi kesedihan biasa. Kesulitan mengelola emosi, sensitivitas berlebihan terhadap penolakan sosial, dan isolasi interpersonal adalah sebagian dari faktor yang sering ditemukan dalam analisis perilaku semacam ini.

Bagi generasi milenial dan Z, terutama mahasiswa yang hidup di periode transisi antara remaja dan dewasa, tekanan akademik, hubungan sosial, dan perubahan identitas diri sering berjalan bersamaan. Ini bukan sekadar urusan “cinta ditolak”, melainkan bagaimana pengalaman emosional dipahami, dinarasikan, dan diinternalisasi oleh individu yang belum memiliki infrastruktur psikologis dan sosial yang kokoh. Peristiwa di UIN Suska memperlihatkan bahwa tanpa dukungan lingkungan sosial yang memadai—termasuk akses layanan kesehatan mental—emosi yang intens bisa berubah menjadi bahaya nyata.

Masyarakat perlu menangkap peristiwa ini bukan hanya sebagai kasus kriminal yang terisolasi, tetapi sebagai cermin bahwa dinamika emosional di usia muda memerlukan ruang ekspresi, pemahaman, dan dukungan yang sehat. Kampus dan komunitas pendidikan selayaknya menjadi ruang aman untuk dialog tentang kesehatan mental, identitas, dan cara sehat menanggapi konflik interpersonal. Tanpa itu, luka hati yang dibiarkan menumpuk bukan hanya membahayakan individu, tetapi keseluruhan ekosistem sosial di mana mereka berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *