Warta

“Darah Juang Tak Pernah Padam”, Selamat Jalan John Tobing

catrawarta.com — Kabar duka itu datang dari ruang perawatan Rumah Sakit Akademik UGM. Jonhsony Maharsak Lumban Tobing—lebih dikenal sebagai John Tobing—mengembuskan napas...

Pencipta lagu darah juang john tobing meninggal
Pencipta Lagu “Darah Juang” John Tobing Meninggal. (Sumber : Tangkap Layar YT Kagama Channel)

catrawarta.comKabar duka itu datang dari ruang perawatan Rumah Sakit Akademik UGM. Jonhsony Maharsak Lumban Tobing—lebih dikenal sebagai John Tobing—mengembuskan napas terakhirnya. Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada angkatan 1986 itu berpulang, meninggalkan warisan yang tak sekadar lagu, melainkan api kesadaran.

Namanya mungkin tak sepopuler para orator yang berdiri di atas mobil komando. Namun karyanya, “Darah Juang”, hidup di setiap kepalan tangan mahasiswa yang terangkat ke udara. Lagu itu bukan sekadar syair. Ia adalah gema zaman. Ia adalah napas panjang perlawanan.

Di akhir 1990-an, ketika rezim Orde Baru berada di ujung senja kekuasaannya, kampus-kampus bergolak. Mahasiswa turun ke jalan. Krisis moneter menghantam. Harga melambung. Rakyat kecil tercekik. Di tengah gelombang demonstrasi yang mengarah pada momentum Reformasi 1998, “Darah Juang” menjelma menjadi himne.

Liriknya sederhana, tetapi menghunjam:

Di sini negeri kami

Tempat padi terhampar

Samuderanya kaya raya

Tanah kami subur, Tuan…

Ada ironi yang ditelanjangi di sana. Negeri kaya, tetapi rakyatnya papa. Tanah subur, tetapi buruh dan petani tetap terpinggirkan. Anak buruh tak sekolah. Pemuda desa tak kerja.

John Tobing menciptakan lagu itu bersama tiga rekannya: Web Warouw, Dadang Yuliantoro, dan Andi Munajat. Mereka bukan sedang memburu popularitas. Mereka merespons kegelisahan zaman. Sebagai mahasiswa filsafat, John akrab dengan wacana keadilan, ketimpangan, dan kuasa. Tetapi ia memilih menyampaikannya lewat nada.

Di banyak kampus, lagu itu dinyanyikan sebelum long march dimulai. Dikumandangkan saat mahasiswa duduk melingkar di halaman DPRD. Dinyanyikan dengan suara parau, kadang di bawah terik matahari, kadang dalam hujan gas air mata.

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Tuk bebaskan rakyat…

Kalimat “Bunda relakan darah juang kami” menjadi sumpah tak tertulis generasi Reformasi. Ia bukan ajakan kekerasan, melainkan kesiapan berkorban demi perubahan. Dalam konteks itu, “darah” adalah metafora tekad. “Juang” adalah energi kolektif.

Bagi banyak alumni gerakan 1998, “Darah Juang” adalah memori emosional. Ia mengikat solidaritas lintas kampus dan lintas kota. Dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, hingga Makassar, lagu ini menyeberangi batas geografis. Tanpa komando resmi, ia menjadi bahasa bersama.

Sosiolog menyebutnya sebagai cultural resistance—perlawanan yang dimediasi budaya. Lagu itu membantu membangun identitas kolektif mahasiswa sebagai agen perubahan. Dalam situasi represif, musik menjadi ruang aman untuk menyampaikan kritik. Ketika spanduk dirampas, suara tetap bisa menggema.

John Tobing mungkin tak selalu berdiri di garis depan demonstrasi. Tetapi karyanya berdiri tegak di tengah massa. Lagu itu memproduksi keberanian. Ia menyatukan rasa marah menjadi tekad yang terarah.

Reformasi 1998 akhirnya menggulingkan tirani. Namun “Darah Juang” tak ikut runtuh bersama rezim. Ia tetap dinyanyikan dalam aksi-aksi mahasiswa generasi berikutnya. Setiap kali ketidakadilan terasa, lagu itu kembali hidup.

Kepergian John Tobing menyisakan duka, tetapi juga pengingat. Bahwa perubahan tak selalu lahir dari mimbar pidato. Kadang ia lahir dari gitar sederhana dan lirik yang jujur. Di tengah zaman yang kerap bising oleh ujaran kebencian dan polarisasi, “Darah Juang” mengingatkan bahwa perjuangan sejati berpihak pada mereka yang dirampas haknya. Pada rakyat kecil yang tergusur dan lapar.

John telah pergi. Namun setiap kali mahasiswa menyanyikan:

Padamu kami berjanji…

Di situlah ia tetap hidup. Dalam suara yang tak mau tunduk. Dalam nyanyian yang tak selesai oleh kematian. (Berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *