Catra Budaya

Pangeran Pekik: Dicintai Rakyat, Dibenci Raja – Paradoks Seorang Pangeran Jawa

catrawarta.com — Pelataran Makam Banyusumurup di Imogiri, Bantul, terasa senyap. Tidak ada kemegahan seperti kompleks utama makam raja-raja Mataram. Banyusumurup justru dikenal...

Pangeran pekik dicintai rakyat dibenci raja   paradoks seorang pangeran jawa
Dicintai Rakyat, Dibenci Raja

catrawarta.comPelataran Makam Banyusumurup di Imogiri, Bantul, terasa senyap. Tidak ada kemegahan seperti kompleks utama makam raja-raja Mataram. Banyusumurup justru dikenal sebagai tempat pemakaman bangsawan yang “disisihkan” dari lingkar kekuasaan.

Di sinilah Pangeran Pekik dimakamkan seorang tokoh penting dalam sejarah Jawa yang dicintai rakyat, tetapi dibenci rajanya sendiri.“Beliau itu bangsawan besar dari Surabaya. Orangnya halus, suka menolong rakyat kecil. Tapi justru dibunuh karena dianggap berbahaya,” kata Slamet Riyadi (65), juru kunci Banyusumurup.

Pangeran Pekik adalah putra penguasa Surabaya dan memiliki garis keturunan dengan Sunan Giri. Ketika Surabaya ditaklukkan oleh Sultan Agung pada 1625, Pekik diboyong ke Mataram bersama elite Surabaya lainnya. Pemindahan itu bukan sekadar penaklukan militer, melainkan strategi politik untuk meredam potensi perlawanan pesisir.Sebagai bagian dari rekonsiliasi, Pangeran Pekik dinikahkan dengan adik Sultan Agung.

Dari pernikahan itu lahir Ratu Wetan, yang kelak menjadi permaisuri Amangkurat I. Posisi Pekik menjadi sangat istimewa: ipar Sultan Agung sekaligus mertua raja berikutnya.Sejarawan H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud mencatat, perkawinan ini adalah proyek politik besar untuk menyatukan dua kekuatan utama Jawa Surabaya dan Mataram yang sebelumnya kerap berseberangan.Namun, di luar urusan politik istana, Pangeran Pekik dikenal luas karena laku sosialnya. Ia bukan bangsawan yang menjaga jarak. Ia membuka pintu bagi rakyat yang membutuhkan, terutama orang-orang Surabaya yang hidup tercerabut di tanah Mataram.“Banyak rakyat mengadu ke beliau. Minta bantuan, minta perlindungan,” kata Slamet Riyadi.

Dalam Babad Tanah Jawi, Pangeran Pekik digambarkan sebagai sosok halus budi, bijaksana, dan dekat dengan seni. Ia mencintai tembang dan pertunjukan, serta dikenal sebagai pelindung kebudayaan pesisiran di lingkungan keraton.Budayawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa, Silang Budaya menyebut Pangeran Pekik sebagai figur penting yang memperkaya kebudayaan Mataram dengan unsur pesisir.

Karisma sosial dan budaya inilah yang membuat namanya hidup di luar struktur formal kekuasaan.Masalahnya, karisma semacam itu justru berbahaya bagi raja. Amangkurat I dikenal sebagai penguasa yang curiga dan represif. Ia menyingkirkan bangsawan, ulama, dan pejabat yang dianggap memiliki pengaruh berlebihan di luar kendali istana.“Bagi Amangkurat I, pengaruh sosial adalah ancaman politik,” kata Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada.

Pangeran Pekik memenuhi semua kriteria yang menimbulkan kecurigaan: dicintai rakyat, dihormati bangsawan, memiliki jejaring pesisir, dan menyandang legitimasi genealogis-religius. Tuduhan pemberontakan pun dilayangkan, meski tak pernah dibuktikan secara terang.

Pada 1659, Pangeran Pekik dieksekusi bersama para pengikutnya. Jenazahnya tidak dimakamkan di kompleks utama Imogiri, melainkan di Banyusumurup sebuah penanda simbolik bahwa ia dikeluarkan dari narasi resmi istana.Dalam logika kekuasaan Mataram, Pangeran Pekik adalah pengkhianat. Namun, dalam ingatan rakyat, ia justru dikenang sebagai bangsawan yang tidak meninggalkan wong cilik.Sejarawan Benedict Anderson menjelaskan bahwa kekuasaan Jawa bertumpu pada karisma daya pancar yang dirasakan rakyat sebagai legitimasi moral.

Dalam kerangka itu, Pangeran Pekik memiliki “wahyu” sosial yang justru melampaui raja.Hari ini, makam Pangeran Pekik lebih sering diziarahi peziarah sejarah daripada wisatawan. Mereka datang bukan sekadar berdoa, tetapi membaca ulang sejarah tentang bagaimana kekuasaan bekerja, dan siapa yang kerap menjadi korban.Kisah Pangeran Pekik juga relevan dengan masa kini. Dalam demokrasi modern, tokoh yang dicintai rakyat sering kali dicurigai elite politik. Popularitas dipersepsikan sebagai ancaman. Kedekatan dengan rakyat dapat berujung pada peminggiran.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya milik para pemenang, tetapi juga kisah mereka yang dikalahkan dan justru dari sanalah wajah kekuasaan paling jujur terbaca.

Sunyi Banyusumurup menjadi saksi. Di sana, Pangeran Pekik tetap hidup sebagai simbol paradoks Jawa: seorang bangsawan keraton yang dicintai rakyat, tetapi dibenci rajanya sendiri. Sebuah pelajaran tentang kekuasaan, keberanian moral, dan harga yang kerap harus dibayar ketika seseorang memilih berpihak pada rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *