Warta

Setiap Tahun Penutur Bahasa Jawa Alami Penurunan

catrawarta.com — Setiap tahun jumlah penutur Bahasa Jawa di DIY ternyata mengalami penurunan, jumlahnya sekitar 0,8 persen. Hal ini diyakini bakal memberikan...

Suasana peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Balai Bahasa Provinsi DIY.

catrawarta.comSetiap tahun jumlah penutur Bahasa Jawa di DIY ternyata mengalami penurunan, jumlahnya sekitar 0,8 persen. Hal ini diyakini bakal memberikan dampak bagi keberlangsungan Bahasa Jawa di masa mendatang.

Salah satu yang menjadi penyebab penurunan tersebut karena semakin banyak jumlah kosakata Bahasa Jawa yang tidak digunakan lagi. Di sisi lain, banyak generasi muda sekarang yang semakin tidak mengerti atau tidak paham kosakata Bahasa Jawa.

Menyadari hal itu, salah satu program prioritas Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah revitalisasi bahasa daerah. Program ini diimplementasikan dalam berbagai kegiatan berkaitan dengan Bahasa Jawa. Salah satu kegiatan yang sedang dirintis adalah pengembangan korpus bahasa daerah “Program ini akan dilaksanakan dengan mempertimbangkan berbagai fenomena Bahasa Jawa yang terjadi,” ujar Widya Bahasa Ahli Madya, Mulyanto MHum, mewakili Kepala Balai Bahasa Propinsi DIY pada acara peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Balai Bahasa Provinsi DIY, Sabtu (14/2/2026).

Ia mengaku prihatin, bila kemudian jumlah penutur Bahasa Jawa terus-menerus mengalami penurunan  Lambat-laun kosakata yang tidak dimengerti dan tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari  akan hilang seiring dengan pertumbuhan kosakata baru pengganti yang berasal dari bahasa asing.

Pertumbuhan Kosakata Baru

Pertumbuhan kosakata baru dalam ranah berbahasa Jawa semakin laju seiring dengan kemajuan teknologi. Hal ini mengakibatkan kualitas penggunaan Bahasa Jawa makin menurun. Penggantian kosakata itu mengalir begitu saja. Pada umumnya penutur Bahasa Jawa tidak menyadarinya.

Balai Bahasa Provinsi DIY saat ini sedang menyiapkan perangkat untuk mengadaptasi kosakata asing itu sebagai bagian kosakata Bahasa Jawa, dengan cara memperkenalkan kosakata milik sendiri, menerjemahkan, menyesuaian kosakata asing dengan ejaan yang dikenal atau mereka cipta istilah asing ke dalam Bahasa Jawa. Perangkat itu berupa pedoman ejaan dan pemadanan istilah.

Di sisi lain, perkembangan teknologi menuntut penutur Bahasa Jawa dapat beradaptasi secara cepat. Jika tidak, penutur Bahasa Jawa akan menjadi tertinggal. Pedoman ejaan, tata bahasa atau pedoman peristilahan rasanya belum cukup memadai untuk pelestarian bahasa Jawa.

Metadata

Saat ini Balai Bahasa DIY sedang menyiapkan metadata dalam bentuk korpus bahasa Jawa. Korpus adalah himpunan data yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai pengolahan data, termasuk pengolahan data digital.

Saat ini penggunaan teknologi digital sudah sangat marak. Penggunaan mesin pencarian digital, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dan media sosial tidak dapat dihindari. Korpus data yang dikumpulkan Balai Bahasa DIY akan menjadi salah satu pendukung  teknologi tersebut.

Selama ini teknologi internet memanfaatkan metadata yang sudah ada. Sayangnya, keberadaan metadata berbahasa Jawa belum memadai seperti bahasa-bahasa besar yang lain. Ketiadaan data metadata korpus itu membuat mesin pencari dan teknologi AI tidak pintar dalam proses mengolah Bahasa Jawa.

Oleh karena itu, metadata perlu disediakan, agar teknologi AI juga pintar dalam pengolahan Bahasa Jawa. Makin banyak metadata yang dapat disediakan, makin pintar alat itu bekerja.

Selain itu, metadata yang berbentuk korpus Bahasa Jawa akan menjadi bagian penting dalam pengembangan Bahasa Jawa dalam berbagai aspek, misalnya penyusunan kamus, penyusunan kaidah, penilaian kemahiran, pengukuran literasi Bahasa Jawa dan sebagainya.

Dengan metadata ini pengolahan data Bahasa Jawa juga akan makin cepat. Penutur Bahasa Jawa juga tidak kesulitan untuk mengakses informasi dalam Bahasa Jawa. Dengan demikian, upaya pelestarian Bahasa Jawa menjadi lebih mudah.

Data korpus Bahasa Jawa bisa berasal dari berbagai sumber, baik tertulis, dapat berupa buku teks, karya sastra, buku pelajaran, naskah siaran dan pidato. Sumber lisan dapat berupa dialog, pidato, siaran radio, siaran televisi dan sebagainya. Balai Bahasa DIY akan bekerja sama dengan para penulis dalam rangka menyediakan data.

Kegiatan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional hari itu, diisi diskusi ‘Masa Depan Bahasa dan Sastra Jawa’ dengan narasumber Prof Dr Suwardi Endraswara MHum dari Universitas Negeri Yogyakarta. Selain itu, juga pentas sastra pembacaan geguritan, nukilan cerkak, macapat, panembrama dan peluncuran buku. Acara dihadiri para penulis dan pegiat sastra Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *