catrawarta.com — Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 (Konsolnas) resmi berakhir Kamis (12/2/2026). Di tengah dinamika diskusi kebijakan, sebuah inovasi dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencuri perhatian, karena keberhasilannya menyentuh aspek paling fundamental dalam pendidikan, yakni pembentukan karakter murid melalui sentuhan digital yang berpadu dengan nilai-nilai luhur budaya.
Inovasi tersebut adalah aplikasi SiMHabit (Sistem Monitoring 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat), Sebuah aplikasi berbasis web yang dikembangkan secara mandiri oleh guru di SMAN 1 Yogyakarta. Aplikasi ini dikembangkan secara khusus untuk memastikan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) benar-benar menjadi napas keseharian bagi para murid di sekolah tersebut tetap terpantau, sekaligus menjadi panduan aktivitas keseharian mereka saat berada di luar lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, Suhirman, dalam paparan praktik baiknya menjelaskan, setiap pagi hingga malam, murid secara mandiri mengisi aktivitas harian mereka di SiMHabit. Mulai dari kebiasaan beribadah, bangun pagi, hingga membantu orang tua, seluruhnya tercatat sesuai waktu pengisian secara realtime.
“Karakter itu bukan sesuatu yang tiba-tiba jadi, ia adalah hasil dari pengulangan atau habituasi. Dengan SiMHabit, kami tidak hanya meminta murid melakukan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, tetapi kami hadir untuk menemani dan memantau proses mereka setiap hari,” ujar Suhirman di hadapan peserta konsolidasi di Depok Jabar.
Ekosistem Kolaborasi
Suhirman menambahkan, kekuatan aplikasi ini terletak pada ekosistem kolaborasi. Guru tidak hanya menjadi pengajar di kelas, tetapi juga mentor yang memonitor perkembangan karakter murid setiap minggu melalui dasbor aplikasi. Tak berhenti di sana, orang tua pun memperoleh laporan bulanan mengenai perkembangan perilaku anak-anak mereka.
Suhirman juga memaparkan praktik baik dari SMAN 8 Yogyakarta, agar para murid semangat dalam menerapkan 7 KAIH, maka sebagai bentuk apresiasi terhadap kejujuran dan konsistensi murid, pihak SMAN 8 Yogyakarta memberikan penghargaan bagi murid-muridnya dengan performa terbaik dalam menerapkan 7 KAIH. Penghargaan ini diharapkan dapat memantik semangat kompetisi positif di kalangan murid untuk terus berbuat baik.
Menariknya, meskipun menggunakan perangkat digital modern, Yogyakarta tetap berpijak pada jati diri bangsa. Nilai-nilai kearifan lokal yang tertuang dalam Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) diintegrasikan secara utuh ke dalam 7 KAIH.
Jalma Kang Utama
Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 40 Tahun 2022, PKJ mengedepankan pembentukan Jalma Kang Utama atau manusia unggul yang memiliki tata krama (unggah-ungguh) dan rendah hati (andhap asor) melalui penerapan nilai utama (ngajeni), seperti ngapurancang, jempol, nuwun sewu/ndherek langkung, nyuwun pangapunten, matur nuwun, dan monggo.
Selain itu, pembiasaan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), penggunaan busana adat gagrak Yogyakarta setiap Kamis serta pembelajaran seni tradisional seperti membatik dan karawitan turut menjadi bagian dari implementasi PKJ.
“Pemprov DIY mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam 7 KAIH melalui Pendidikan Khas Kejogjaan. Kami ingin murid-murid kami menjadi anak Indonesia yang hebat secara nasional, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat sebagai orang Yogyakarta. Hal ini merupakan praktik baik yang dapat diterapkan di daerah lain dengan mengintegrasikan nilai-nilai kelokalannya masing-masing ke dalam 7 KAIH,” jelas Suhirman.
Melalui sinergi antara kebijakan nasional 7 KAIH, dukungan teknologi SiMHabit dan penguatan lokal PKJ, Yogyakarta menawarkan sebuah model pendidikan karakter yang utuh. Model ini sejalan dengan visi Kemendikdasmen dalam melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, sekaligus memiliki kelembutan budi dan integritas tinggi.

Sembako Mulai Merambat Naik, Masyarakat Miskin Tertekan 