Catra Budaya

Sugeng Tindak, Pak Kadi

catrawarta.com — Pemahaman dan penghayatannya pada tradisi dan sejarah di atas rata-rata seusianya. Kemampuannya melantunkan tembang Jawa sungguh lengkap dan enak didengar....

Pak Kadi saat melantunkan tembang pada prosesi tradisi wiwit panen (Dok. Penulis)

catrawarta.comPemahaman dan penghayatannya pada tradisi dan sejarah di atas rata-rata seusianya. Kemampuannya melantunkan tembang Jawa sungguh lengkap dan enak didengar. Selalu belajar, membaca kitab atau babad, lalu menggubah tembang, menjadi kebiasaan. Semalam dia dipanggil pulang kembali oleh penciptanya.

Kami, Lembaga Kebudayaan Jawa (LKJ) Sekar Pangawikan, akrab menyapanya dengan “Pak Kadi”. Bertahun lamanya, dari acara ke acara, dari kota ke kota, Pak Kadi selalu menjadi andalan setiap kali kami diminta memimpin sebuah prosesi. Di ujung depan, ada Kangmas Bambang Nursinggih selaku ujung tombak, yang tak lupa bawa kemenyan dan bunga tabur, diikuti Pak Kadi yang melagukan tembang macapat atau geguritan. Selalu begitu, dan selalu mengesankan. Karakter upacara tradisi berbasis mantra memang pembacaan ulang atas doa-doa.

Pernah, saat Upacara Kebo Ketan, yang diinisasi LSM Kraton Ngiyom Ngawi pimpinan Bramantyo Prijosusilo pada 2016, prosesi berjalan sejauh lebih 3 km dari Sendang Margo. Pak Kadi dan kami semua menikmatinya. Arak-arakan prosesi teramat panjang, di setiap pertigaan atau perempatan jalan harus berhenti untuk menikmati pentas sambil menambah anggota prosesi. Pada siang terik, prosesi berjalan lambat. Sesekali harus berhenti karena prototipe Kebo Ketan, diinspirasi lukisan Djoko Pekik, terlalu tinggi sehingga panitia harus memotong dahan ranting. Sampai lapangan Sekarputih, puncak acara meriah dan sakral, dan kami pulang ke Sleman.

Semua personil Sekar Pangawikan berbagi cerita. Masing-masing mempunyai kisah. Tetapi ada yang sama, semua merasakan perih di punggung. Mlethek rasanya. Tak ada yang memakai sunblock, berjalan jauh sambil melantunkan doa mantra di panas terik, ternyata menjadikan punggung iritasi. Hanya Pak Kadi yang aman selamat tanpa ada perubahan pada kulit dan punggungnya. 

Suatu kali kami diminta mewakili DIY untuk malam perayaan 1 Suro di Sasana Langen Budaya TMII Jakarta. Kami disewakan sebuah bus oleh Dinas Kebudayaan. Sejak berangkat dan sepanjang perjalanan, Pak Kadi bercerita, apa saja yang terkait tradisi, sejarah atau isi beragam kitab. Tak terlihat capek, bahkan meski teman duduknya atau para anggota kontingen terlelap, Pak Kadi asyik bercerita. Dia akan semakin heroik kalau ada yang merespon.

Bayangan kami, Pak Kadi akan tepar begitu acara dan acara selesai untuk kembali ke Yogyakarta. Kami salah! Pak Kadi tetap ceria bercerita, sesekali nembang, dan tertawa renyah saat ditimpali anggota delegasi. Hal yang sama terjadi saat kami mengikuti Merti Candi Gedong Sanga. Dalam pelukan udara dingin Bandungan, kami harus menginap karena acaranya pagi, Pak Kadi tetap saja bercerita. Kami sudah njingkrung, pakai kaos kaki dan baju rangkap dengan jaket atau selimut, sedang Pak Kadi biasa saja. 

Itulah Pak Kadi. Manusia ulet, lama bersenyawa dengan semesta, selepas purna dari guru jadi petani, yang kecintaannya pada seni tradisi nyaris tak terkalahkan. Rutin mengikuti macapatan keliling, sesekali menjadi narasumber, dan ini dengan bangga dia ceritakan, atau rapat rutin perkumpulan. Dan jujur, baru tahu nama tuanya, tradisi Jawa sering mengganti nama setelah menikah, melalui berita duka, Siswo Harjono. Kadi adalah nama kecilnya saat lahir. Meninggal dunia pada Sabtu (8/2/2026) malam dalam usia 75 tahun. 

Kemana pun kami me-launching desa wisata atau desa budaya yang kami inisiasi atau bina, LKJ Sekar Pangawikan selalu hadir. Dan Pak Kadi tetap menjadi andalan dalam melantunkan gegutitan atau macapat. Hari ini, kami harus melepas kepergiannya.

Sugeng tindak, Pak Kadi. Mugi tansah kasuwargan, husnul khatimah, aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *