Warta

Harga Emas Membubung, Pertanda Ekonomi Global Tidak Baik

catrawarta.com — Harga emas melonjak gila-gilaan. Bahkan kenaikan emas antam per hari ini, Kamis (29/1/2026) mencapai rekor tertingginya dengan kenaikan sebesar Rp...

Ilustrasi emas yang harganya terus naik.(Foto: dok ICDX)

catrawarta.comHarga emas melonjak gila-gilaan. Bahkan kenaikan emas antam per hari ini, Kamis (29/1/2026) mencapai rekor tertingginya dengan kenaikan sebesar Rp 165.000.

Lonjakan harga emas tak bisa dianggap wajar. Justru menjadi penanda awal (early warning system) bahwa kondisi ekonomi global tengah berada dalam fase ketidakpastian serius.

”Dalam perspektif ekonomi, naiknya harga emas berkorelasi erat dengan melemahnya kepercayaan terhadap instrumen keuangan konvensional, khususnya bunga dan mata uang global,” ungkap ekonom, Dr Ayif Fathurrahman.

Selama ini, jelasnya, orang lebih memilih bunga. Tapi sekarang bunga global fluktuatif dan cenderung rendah karena ekonomi Amerika Serikat juga tidak sedang baik-baik saja. Ketika bunga tak lagi menarik, orang mencari aset paling aman, dan emas selalu menjadi pilihan.

Dalam teori ekonomi, emas dikenal sebagai safe haven asset , yakni instrumen yang cenderung dicari investor saat kondisi ekonomi dan geopolitik tidak stabil. Ayif menilai, meningkatnya permintaan emas dipicu oleh tiga faktor utama.

Ketidakpastian Ekonomi Global

Faktor pertama, ketidakpastian ekonomi global setelah Covid-19, yang diperparah oleh konflik geopolitik seperti perang Rusia–Ukraina, konflik Israel–Palestina, hingga meningkatnya ketegangan antarnegara besar.

Faktor kedua, penurunan daya beli masyarakat dan tekanan inflasi, yang membuat menyimpan uang di bank tidak lagi mampu melindungi nilai kekayaan. Faktor ketiga, kekhawatiran terhadap dominasi dolar AS sebagai mata uang global.

”Ketika dunia takut pada dolar, yuan, atau mata uang lain karena konflik geopolitik, maka emas menjadi rasionalitas ekonomi yang paling logis,” imbuh Ayif.

Peningkatan Pengangguran dan Kemiskinan

Namun demikian, Ayif mengingatkan kenaikan harga emas juga memiliki implikasi makroekonomi. Jika terlalu banyak dana masyarakat terserap ke emas, perputaran uang di sektor riil dapat melambat, yang berpotensi berdampak pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan.

”Masalahnya bukan emasnya yang naik. Justru emas naik karena ekonomi sedang bermasalah. Pemerintah jangan sibuk menurunkan harga emas, tapi fokus mengatasi akar inflasi dan ketergantungan impor,” tandasnya.

Ia menekankan pentingnya intervensi strategis pemerintah, terutama dalam memperkuat swasembada pangan dan energi, agar ekonomi nasional lebih tahan terhadap guncangan geopolitik global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *