catrawarta.com — Temuan ini mengejutkan banyak pihak. Setelah melalui perdebatan panjang, potongan video, dan kecurigaan kolektif, publik akhirnya mengetahui sebuah fakta penting: es gabus ternyata tidak dibuat dari gabus. Ia bukan busa kasur. Bukan spons cuci piring. Dan—yang paling mengecewakan—bukan pula ancaman laten bagi ketahanan nasional.
Pengetahuan ini tentu melegakan. Setidaknya bagi mereka yang sempat yakin bahwa selama ini anak-anak Indonesia diam-diam mengunyah bahan bangunan.
Kebingungan bermula dari tekstur. Es gabus dianggap terlalu kenyal untuk dipercaya. Dalam logika baru konsumsi publik, sesuatu yang murah dan kenyal pantas dicurigai. Apalagi jika dijual tanpa kemasan, tanpa label gizi, dan tanpa narasi pemasaran yang meyakinkan. Di titik ini, lidah tidak lagi berfungsi. Yang bekerja adalah imajinasi.
Maka jadilah tepung hunkwe bertransformasi menjadi “benda asing”. Warna cerah berubah menjadi bukti. Dan pedagang kecil, yang sejak awal tak pernah diajari cara menjelaskan proses kimia pangan, mendadak harus berhadapan dengan kecurigaan yang terlalu percaya diri untuk disebut awam.
Ironisnya, klarifikasi ilmiah selalu datang belakangan. Setelah video menyebar, setelah opini terbentuk, setelah stigma terlanjur membeku. Uji laboratorium menyatakan es gabus aman, tapi seperti banyak hal lain, kebenaran sering kalah cepat dari kecurigaan. Ia datang untuk menutup kasus, bukan memulihkan martabat.
Di sini kita belajar satu hal penting: dalam masyarakat yang gemar curiga, yang murah wajib membuktikan dirinya tidak berbahaya, sementara yang mahal otomatis dianggap aman. Kita jarang bertanya apa isi minuman berwarna pastel yang dijual di kafe ber-AC. Tapi es gabus di pinggir jalan? Ia pantas diperiksa, direkam, dan diperdebatkan ramai-ramai.
Maka sesungguhnya, es gabus tidak pernah bermasalah. Yang bermasalah adalah cara kita memandang pangan rakyat kecil—selalu dengan kacamata curiga, seolah kemiskinan bahan identik dengan niat jahat. Dalam logika ini, es gabus tidak diadili karena kandungannya, tetapi karena posisinya.
Kini semuanya sudah jelas. Es gabus bukan dari gabus. Ia hanya jajanan sederhana yang terlalu lama hidup tanpa pembela. Tapi mungkin itu tak lagi penting. Sebab, di tengah masyarakat yang mudah panik, fakta sering kali hanya berfungsi sebagai catatan kaki—sementara kecurigaan telanjur menjadi judul utama.
Dan seperti es gabus itu sendiri, nalar publik kita tampaknya mudah mencair. Tinggal disiram sedikit ketakutan.

Cegah Konflik Horizontal, Tokoh Adat Minta Warga Jaga Keamanan 