catrawarta.com — Peristiwa gempa bumi dahsyat tahun 2006 yang terjadi di DIY menginspirasi banyak pihak untuk melakukan simulasi penyelamatan. Cara ini dimaksudkan untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa dan upaya pengenalan menghadapi risiko bila sewaktu-waktu terjadi gempa.
Seperti yang dilakukan SD Negeri Sindurejan Yogyakarta, Jumat (23/1/2026), sekolah ini mengajak 332 siswa SD tersebut untuk mengikuti simulasi bencana gempa bumi dalam program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi situasi darurat.
Kepala SDN Sindurejan, Maria Tri Kuntari SPd mengatakan, kegiatan SPAB penting untuk memastikan setiap warga sekolah mampu bertindak cepat dan tepat saat terjadi bencana. “Melalui SPAB, pihak sekolah membangun kesiapsiagaan serta budaya aman bencana secara terencana, terpadu, dan terkoordinasi, karena sekolah kami berada di kawasan rawan bencana,” ujarnya.
Simulasi melibatkan 23 guru dan tenaga kependidikan serta didukung 12 orang dari Komite Sekolah dan wali murid. Kegiatan diawali bunyi sirine sebagai tanda terjadinya gempa, dilanjutkan praktik berlindung di bawah meja dan proses evakuasi siswa, termasuk simulasi penanganan korban luka ringan.
Program SPAB di SDN Sindurejan merupakan bagian dari kegiatan pelatihan yang dilaksanakan selama 21-23 Januari 2026. Pelatihan tersebut mencakup manajemen risiko bencana, simulasi evakuasi gempa, penyusunan rencana kontingensi serta pengintegrasian materi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam kurikulum sekolah.
Pelaksanaan SPAB di sekolah tersebut dihadiri tim pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, di antaranya Ka Tim Pelaksana Darmanto SH serta Ella Yussy SPd MA dari MDMC. Program ini bertujuan membangun budaya siaga bencana dan memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan sekolah yang aman dan tangguh bencana.

Merawat Pertiwi Kado Istimewa HUT ke-79 Megawati 