catrawarta.com — Keluarga sangat berperan dalam pola asuh anak. Mereka tumbuh sebagai anak yang sangat mudah mengadopsi kebiasaan-kebiasaan harian di lingkungan keluarga. Karena itu, keluarga menjadi tempat paling dasar sekaligus fondasi penanaman pola asuh.
Pola asuh yang tepat dapat memberi jalan bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang secara wajar bahkan bisa menjadikan orang tua bangga. Sebaliknya, pola asuh yang tidak tepat membuat anak-anak kesulitan bertumbuh dan berkembang secara baik.
Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Pola Asuh?
Berbagai sumber menyebutkan, pola asuh merupakan proses pendidikan dan pelatihan anak yang mendukung tumbuh kembang positif. Tujuannya tentu supaya anak-anak dapat berkembang menjadi seseorang yang secara fisik sesuai dengan usia, begitu pula emosi dan kecerdasannya.
Bahkan banyak orang mempercayai pola asuh sudah dilakukan sejak anak berada dalam kandungan. Jadi, peran orang tua dalam pola asuh anak sangat dominan. Anak akan berada di samping orang tua selama sejak dalam kandungan hingga usia sekolah taman bermain atau taman kanak-kanak.
Selain keluarga, lingkungan tempat tinggal juga sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Pola asuh anak harusnya juga menjadi perhatian lingkungan. Lingkungan sosial menurut moninaga.id menjadi salah satu tempat pola asuh anak. Ketika lingkungan sosial berjalan dengan baik maka tumbuh kembang anak secara sosial juga akan baik.
Di sinilah lagi-lagi peran orang tua untuk memberikan lingkungan sosial yang sesuai dengan tumbuh kembang anak. Di lingkungan sosialah anak-anak belajar bersosialisasi, belajar berkomunikasi, belajar beradaptasi dan melihat kehidupan nyata di luar rumah.
Lantas, Apa saja Jenis Pola Asuh dan Bagaimana Penerapannya?
Pada buku Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak: Konsep, Teori dan Aplikasi Praktis serta laman halodoc.com ada beberapa jenis pola asuh yang akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Tercatat paling tidak ada tiga jenis pola asuh yang menonjol yakni pola asuh permisif, otoriter, authoritative dan uninvolved parenting.
Masing-masing jenis pola asuh akan sangat mempengaruhi pola pikir dan tumbuh kembang anak. Anak akan menjadi seperti apa sangat tergantung pola asuh orang tua dalam keluarga. Sebagai fondasi, pola asuh pada usia-usia emas itulah yang paling penting. Secara singkat dapat digambarkan dengan penjeklasan sebagai berikut.
Pola asuh permisif. Di dalam pola asih jenis ini, orang tua memberi kebebasan pada anak tanpa ketegasan yang jelas. Orang tua cenderung memaklumi dan memahami perilaku anak, menuruti segala keinginannya dengan berbagai alas an sehingga kesannya cenderung ”membiarkan” dan ”membebaskan” anak sesuai keinginannya tanpa aturan yang jelas dan tegas.
Dampak pola asuh ini cenderung negatif karena anak jadi mementingkan diri sendiri, Ketika keinginannya tidak dipenuhi akan marah, emosi jadi kadang tidak terkendali, cenderung mendominasi dan tidak mau mengalah serta tidak ada keteraturan dan ketegasan selama menjalani kehidupan kelak. Banyak orang menyebut akibat dimanja.
Berikutnya pola asuh otoriter. Kebalikannya dengan pola asuh permisif, pola asuh otoriter menjadikan aturan keluarga sangat ketat. Anak harus menuruti segala kemauan orang tua karena mereka yang mempunyai aturan sehingga dominan menentukan segalanya.
Anak mendapat pengaturan secara ketat dengan dalih supaya kehidupannya kelak seperti orang tuanya. Biasanya, mereka yang menerapkan pola ini merupakan ”korban” pola asuh yang juga otoriter dalam lingkungan keluarga.
Ada dampak negative maupun positif dari pola pengasuhan seperti ini. Anak akan terlihat penurut tetapi belum tentu saat di luar. Ia bisa melampiaskan segara keterkekangan di rumah kepada teman-teman dan lingkungannya. Lebih buruk lagi, perkembangan mental anak tidak sebagus ketika ia bisa memperoleh kebebasan. Anak akan cenderung tumbuh sebagai ”yes man” tanpa memiliki kesempatan untuk berkreatif.
Nah, ada satu pola yang disarankan oleh para ahli yakni pola asuh authorotative atau demokratis. Ini merupakan bentuk yang paling ideal karena memberi kebebasan tetapi sekaligus memberi batasan dengan mengedepankan keterbukaan. Anak akan merasa tahu, sadar diri dengan pilihan-pilihan yang diambilnya. Orangtua memberi batasan dengan pemahaman ketika anak melakukan sesuatu yang tidak pas.
Pada pola asuh jenis ini, anak mendapat lebih banyak ruang dialog dengan orangtua sehingga tumbuh sebagai anak yang bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik. Anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tahu batasan dengan alasan yang jelas dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan keluarga dan luar rumah secara baik pula.
Pada pola pengasuhan jenis ini, anak juga mendapat kebebasan untuk berkreasi mengembangkan kemampuan sesuai dengan minatnya. Orang tua selalu mendampingi dan mengajak dialog agar tercipta ruang pembicaraan yang nyaman bagi anak.
Ada satu lagi yang biasanya luput dari perhatian yakni orang tua yang cenderung mengabaikan pola asuh. Mereka asal jalan, anak juga berkembang sendiri tanpa asuhan dan pendampingan. Orang tua hanya memikirkan kewajibannya memenuhi hak dasar sudah cukup. Anak bisa memperoleh makan, sandang, papan, cukup sampai di situ.
Mereka cenderung membebaskan anak-anaknya tanpa aturan dan batasan yang jelas. Hanya pemenuhan fisik yang menjadi perhatian orang tua, selebihnya terserah anak mau apa saja.
Nah, dari berbagai jenis pola asuh tersebut, apa yang sudah kita lakukan? Permisif, otoriter, authoritative (demokratis) atau cuek saja? Pilih yang terbaik karena pola asuh menentukan masa depan anak.

Hati-hati Menitipkan Anak dalam Pola Asuhan Orang Lain 