catrawarta.com — PT Taru Martani, pabrik cerutu tertua di Indonesia dan Asia Tenggara yang didirikan sejak tahun 1918 masih menunjukkan eksistensinya dengan memperkuat lini pasokan bahan baku lokal.
Badan Usaha Milik Daerah milik Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut diketahui berupaya menggerakkan kembali kejayaan sentra pertanian tembakau daerah melalui pengembangan varietas Grompol.
Langkah ini ditempuh untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui kepastian pasar hasil panen.
Upaya menjaga geliat industri manufaktur tembakau tersebut ditegaskan dalam perhelatan panen perdana tembakau varietas Grompol di Dukuh Seropan, Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, pada Kamis, 23 Juli 2026.
Panen juga dilakukan di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, yang dirangkai dengan forum dialog bersama kelompok tani serta Asosiasi Petani Tembakau Indonesia dari wilayah Bantul dan Gunungkidul.
Direktur Utama PT Taru Martani Widayat Joko Priyanto menjelaskan bahwa upaya merangkul petani lokal merupakan bagian strategi menjalankan fungsi bisnis. Kemitraan strategis yang digalang bersama petani di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunungkidul kini telah mencakup luas tanam lebih dari 90 hektare.
“Kami mengajak petani dan kelompok tani kembali menanam tembakau. Tahun pertama pada 2025 hasilnya sangat baik sehingga tahun ini kembali kami lanjutkan. Luas tanamnya kini sudah mencapai lebih dari 90 hektare di tiga kabupaten. Panen perdana hari ini dilakukan di Dlingo karena menjadi lokasi yang pertama kali memasuki masa panen,” ujar Widayat.
Widayat menambahkan bahwa Sleman, Bantul, dan Gunungkidul memiliki rekam jejak sejarah yang kuat sebagai kawasan budidaya tembakau. Langkah Taru Martani menghidupkan kembali kawasan ini dinilai strategis karena mutu komoditas lokal mampu bersaing dengan daerah lain.
Pasokan varietas Grompol tersebut dialokasikan sebagai bahan baku tembakau iris dan kebutuhan cerutu melalui pemrosesan pengeringan pengasapan. Untuk memenuhi kapasitas produksi pabrik yang membutuhkan sekitar 100 ton tembakau kering atau setara 700 ton basah, Taru Martani menargetkan perluasan lahan ideal hingga melebihi 400 hektare.
“Ketiga wilayah ini sebenarnya pernah menjadi sentra tembakau. Sekarang kami menggerakkan kembali petani agar menanam tembakau karena kualitas hasilnya tidak kalah dengan daerah lain. Tahun ini luas tanam baru sekitar 90 hektare. Padahal kebutuhan kami untuk varietas Grompol mencapai sekitar 100 ton tembakau kering atau sekitar 700 ton basah. Idealnya diperlukan lahan lebih dari 400 hektare,” ungkapnya.
Di sisi lain, skema kemitraan yang ditawarkan pabrik legendaris ini mendapat sambutan positif dari para pembudidaya.
Koordinator Petani Tembakau Dlingo sekaligus Ketua APTI Bantul, Muhammad Samsul Malik, mengungkapkan bahwa kepastian penyerapan hasil panen oleh Taru Martani menjadi daya tarik utama bagi para petani untuk beralih menanam varietas Grompol. Jika sebelumnya petani sangat rentan dirugikan oleh sistem tebasan dan cuaca buruk, fasilitas pengolahan pengasapan milik Taru Martani menjamin hasil panen tetap terserap dalam berbagai kondisi.
“Panen perdana tahun ini kualitasnya lebih bagus dan produksinya meningkat dibanding tahun lalu. Setelah menjadi mitra Taru Martani, petani semakin semangat menanam Grompol,” kata dia.
Jika dihitung secara usaha tani, kata dia, Grompol lebih menguntungkan dibanding tembakau lokal yang dijual sistem tebasan.
” Taru Martani sangat membantu petani pada musim kemarau maupun saat cuaca tidak menentu karena hasil panen sudah pasti dibeli,” kata Samsul.
Sementara Ketua APTI Kabupaten Gunungkidul Sukimin menyebut antusiasme petani di wilayah Semin dan Ngawen terus meningkat seiring hadirnya kepastian harga dan pasar. Saat ini sekitar 600 petani di Gunungkidul telah terlibat dalam pengolahan varietas Grompol di lahan seluas lebih dari 10 hektare.
Petani melihat program ini mampu meningkatkan kesejahteraan karena sudah ada kepastian pembeli dengan harga yang menguntungkan.
“Ke depannya kalau sukses pasti akan lebih banyak petani yang tertarik menanam tembakau jenis grompol dan bermitra dengan Taru Martani. Ini memang sudah menjadi karakter petani, kalau sudah melihat lainnya sukses, pasti ikut menanam,” ujar Sukimin.

