catrawarta.com — Istilah londo ireng atau “Belanda Hitam” dalam sejarah Indonesia merujuk pada orang-orang Afrika yang direkrut Belanda untuk menjadi tentara dalam Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Sejarawan Ineke van Kessel dalam bukunya Serdadu Afrika di Hindia Belanda, 1831-1945 menjelaskan bahwa londo ireng yang sesungguhnya adalah tentara Afrika yang didatangkan ke Jawa dan wilayah Hindia Belanda lainnya.
Mereka direkrut dari Afrika Barat pada abad ke-19 untuk bergabung dengan kesatuan KNIL. Status mereka dalam struktur militer Belanda setara dengan tentara Eropa yang bertugas dalam KNIL.
Belanda merekrut sekitar 3.000 orang dari Elmina, wilayah yang kini menjadi bagian dari Ghana, pada abad ke-19. Mereka kemudian dikirim ke Hindia Belanda atau Indonesia untuk memperkuat pasukan Belanda.
Para tentara Afrika tersebut kemudian tinggal di Jawa dan Sumatra. Sebagian dari mereka berkeluarga dan menikah dengan perempuan lokal.
Keturunan mereka kemudian dikenal dengan sejumlah sebutan, antara lain Zwarte Hollanders, Black Dutchies, atau Londo Ireng dalam istilah Jawa. Keturunan komunitas ini kini tersebar di sejumlah negara, termasuk Ghana, Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat.
Direkrut karena Belanda Kekurangan Tentara
Kehadiran tentara Afrika dalam pasukan KNIL tidak terlepas dari kebutuhan Belanda akan tambahan personel militer. Pada masa itu, Belanda mengalami kekurangan tentara sehingga mencari sumber tenaga militer dari wilayah lain.
Ghana dipilih setelah Raja Belanda Willem I membuat perjanjian dengan Raja Ashanti terkait kebutuhan pasokan tentara. Sebagian besar orang yang direkrut disebut berasal dari kalangan budak dan tahanan perang. Mereka kemudian direkrut sebagai tentara bayaran dengan bayaran sekitar 100 gulden per orang setiap bulan.
Rombongan tentara Afrika yang dikirim ke Hindia Belanda datang dalam tiga gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 1831-1836 dengan jumlah sekitar 112 orang. Selanjutnya, pada 1837-1841, sekitar 2.100 orang didatangkan ke Hindia Belanda. Gelombang ketiga berlangsung pada 1860-1872 dengan jumlah sekitar 800 orang.
Para tentara tersebut berasal dari berbagai suku di Afrika Barat, antara lain Mossi, Fanti, Dagomba, dan Grushi. Mereka secara kolektif disebut sebagai Donko dan memiliki latar belakang agama Kristen maupun Islam.
Masa kontrak kerja mereka dengan militer Belanda berkisar antara enam hingga 12 tahun.
Dalam perkembangannya, sebagian tentara Afrika tersebut menikah dengan perempuan lokal dan membentuk keluarga di Hindia Belanda. Sekitar 456 pria Afrika yang berada di Hindia Belanda tercatat menikah dengan perempuan setempat. Keturunan mereka kemudian menjadi bagian dari diaspora Indo-Afrika.

Jejak Londo Ireng di Purworejo
Jejak sejarah komunitas londo ireng masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia, salah satunya Purworejo, Jawa Tengah.
Sebagian tanah di wilayah tersebut diberikan kepada para tentara Afrika yang pernah bertugas dalam pasukan Belanda. Keberadaan komunitas tersebut kemudian melahirkan kawasan yang dikenal sebagai Kampong Afrikan atau Afrikaanse wijk.
Selain Purworejo, jejak keberadaan komunitas keturunan tentara Afrika juga dapat ditemukan di sejumlah kota lain, seperti Semarang, Medan, dan Jakarta.
Sejarah londo ireng menjadi bagian dari perjalanan panjang hubungan antara Afrika, Belanda, dan Indonesia. Kehadiran mereka tidak hanya meninggalkan jejak dalam sejarah militer kolonial, tetapi juga membentuk komunitas dan keturunan Indo-Afrika yang hingga kini tersebar di berbagai belahan dunia.

