catrawarta.com — Nama Ambarrukmo tentu tidak asing bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Nama tersebut kini dikenal sebagai salah satu kawasan perhotelan yang berada tidak jauh dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta.
Namun, di balik nama tersebut tersimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan erat dengan Keraton Yogyakarta. Ambarrukmo merupakan warisan Keraton Yogyakarta dan pernah menjadi kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII setelah turun takhta.
Jejak sejarah tersebut kini dituangkan dalam buku Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri yang diluncurkan Ambarrukmo Group di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo, Selasa (21/7/2026).

Buku tersebut ditulis oleh Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Margana dan Kurator Seni Mikke Susanto.
Sejarawan Sri Margana menjelaskan, Kompleks Kedaton Ambarrukmo menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Yogyakarta, mulai dari era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, masa revolusi kemerdekaan, hingga periode ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia.
“Sri Sultan HB VII adalah satu-satunya Raja Jogja yang lengser dari kedudukan sebagai raja sebelum meninggal dan tinggal di Kedaton Ambarrukmo,” jelas Sri Margana.
Ia menjelaskan, pada era kolonial, kawasan Kedaton Ambarrukmo awalnya masih berupa kebon raja sebelum kemudian menjadi kediaman Sri Sultan HB VII setelah turun takhta.
Istilah kebon raja, menurut Margana, berkaitan erat dengan sosok Sri Sultan HB VII yang dikenal sebagai Sultan Sugih atau sultan yang kaya.
“Di masanya, Yogyakarta memang booming ekonomi perkebunan. Tanah-tanah milik keraton banyak disewa pekebun Eropa,” jelasnya.
Pada masa itu, para pengusaha Eropa menginginkan masa sewa tanah yang panjang, sekitar 50 hingga 70 tahun. Namun, Sri Sultan HB VII hanya mengizinkan masa sewa maksimal 10 tahun.
“Kebijakan itu dianggap menghalangi kepentingan kolonial, sehingga Sri Sultan HB VII dipaksa turun takhta,” papar Margana.
Setelah turun takhta, Sri Sultan HB VII memilih tinggal di Kedaton Ambarrukmo bersama permaisuri ketiganya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencana, serta anak-anaknya. Sri Sultan HB VII kemudian wafat pada 1921 di kediamannya tersebut.
Memasuki era kemerdekaan, Kompleks Kedaton Ambarrukmo juga memiliki peran penting dalam pemerintahan daerah. Pada 1947 hingga 1964, kompleks tersebut digunakan sebagai kantor administrasi Bupati Sleman.

Sebanyak lima Bupati Sleman pernah berkantor di Kompleks Kedaton Ambarrukmo. Jejak keberadaan mereka kemudian diabadikan dalam sebuah monumen bernama “Panca Hasta” atau “Lima Tangan” yang hingga kini masih dapat dilihat di kompleks tersebut.
Pada dekade 1960-an, pemerintah menggunakan dana pampasan perang dari Jepang untuk membiayai berbagai proyek pembangunan, salah satunya pembangunan Hotel Ambarrukmo.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX kemudian menyediakan tanah milik keraton untuk pembangunan hotel tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap cita-cita Presiden Soekarno. Menurut Margana, pembangunan hotel itu juga menjadi bagian dari keinginan Sri Sultan HB IX untuk mengembangkan sektor pariwisata Yogyakarta.
“Dan memang tujuan Sri Sultan HB IX ingin mengembangkan pariwisata Yogyakarta,” terang Margana.
Yogyakarta sebenarnya telah memiliki sejumlah hotel yang merupakan peninggalan era kolonial. Namun, Sri Sultan HB IX menginginkan adanya hotel yang dapat merepresentasikan wajah pariwisata Yogyakarta.
Dari gagasan tersebut kemudian lahir Ambarrukmo Palace yang dalam perkembangannya bertransformasi menjadi Royal Ambarrukmo Yogyakarta, salah satu ikon perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta hingga saat ini.

Sementara itu, dikutip dari laman Royal Ambarrukmo, pembaca manuskrip kuno Rendra Agusta yang turut menjadi narasumber dalam peluncuran buku tersebut mengatakan, Kompleks Kedaton Ambarrukmo memiliki posisi yang berbeda dibandingkan situs-situs sejenis lainnya di Yogyakarta.
Menurut Rendra, manuskrip-manuskrip kuno di Yogyakarta tidak banyak mengulas secara khusus mengenai posisi pesanggrahan. Padahal, Yogyakarta memiliki sejumlah situs pesanggrahan lain, seperti Situs Warungboto, Tamansari, hingga Pesanggrahan Gembirowati.
“Ambarrukmo menjadi berbeda karena punya kekhasan sendiri dalam merespons situasi. Transisi dari yang awalnya privat bagi raja kemudian bisa diakses publik,” ujar Rendra.
Ia menilai, Kedaton Ambarrukmo merupakan salah satu situs yang memiliki kesinambungan sejarah yang panjang dan tidak pernah terputus.
“Ambarrukmo menjadi salah satu situs yang secara kesinambungan tidak pernah putus menjadi saksi sejarah panjang Yogyakarta, dari kerajaan, masa kolonial, hingga masa sekarang,” sambungnya.

