Warta

Subak Bali Terapkan Sistem Gilir Air Hadapi Musim Kemarau

Subak Bali telah lama menerapkan mekanisme distribusi air secara bergilir

Subak bali telah lama menerapkan mekanisme distribusi air secara bergilir
Subak Bali. (dok UNESCO )

catrawarta.comPuncak musim kemarau diperkirakan berlangsung mulai Juli hingga September 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gagal panen akibat berkurangnya pasokan air irigasi.

Menghadapi ancaman tersebut, sistem irigasi tradisional subak di Bali telah lama menerapkan mekanisme distribusi air secara bergilir untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Kepala Laboratorium Subak dan Rekayasa Agrowisata Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. I Made Sarjana, mengatakan sistem distribusi air bergilir dilakukan baik antar-subak yang menggunakan sumber air dari bendungan yang sama maupun di dalam satu subak.

“Kalau antar-subak ada kesepakatan antara pekaseh (ketua subak) mengenai kapan masing-masing subak mendapat giliran distribusi air,” kata Made Sarjana kepada Catrawarta.com, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, di dalam satu subak pembagian air dilakukan dengan membagi areal persawahan menjadi tiga kelompok, yakni kawasan hulu, tengah, dan hilir.

Kelompok pertama, yaitu sawah di kawasan hulu yang berada dekat pintu masuk air, memperoleh giliran pertama untuk pengolahan lahan hingga penanaman padi. Distribusi air berlangsung sekitar dua minggu atau hingga tanaman padi tumbuh tegak.

Selanjutnya, air dialirkan selama dua minggu ke kawasan tengah, kemudian dua minggu berikutnya ke kawasan hilir. Setelah seluruh tahapan selesai, distribusi air kembali dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing petani.

Selain sistem pergiliran, subak juga mengenal mekanisme pinjam-meminjam air antarpetani. Skema ini diterapkan ketika seorang petani membutuhkan air lebih banyak, sementara jatah air yang diterimanya tidak mencukupi.

“Teknisnya, pintu masuk air milik petani yang meminjamkan ditutup sementara, lalu aliran air dialihkan ke sawah petani yang membutuhkan,” jelasnya.

Namun, Made Sarjana menegaskan mekanisme tersebut harus mendapat persetujuan atau setidaknya sepengetahuan pengurus subak.

“Statusnya meminjam air. Jika tidak ada laporan atau permakluman kepada pekaseh, petani yang menutup aliran air bisa dituduh mencuri air,” ujarnya.

Sistem irigasi tradisional subak di bali telah lama menerapkan mekanisme distribusi air secara bergilir
 Dr. I Made Sarjana (topi hitam) berdiskusi dengan Pekaseh (Ketua) Subak Sembung Kota Denpasar. (dok pribadi)

Ia juga menemukan pola pengelolaan air yang berbeda di Subak Delod Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, yang selama bertahun-tahun mengalami krisis air irigasi.

Di kawasan tersebut, areal subak dibagi menjadi dua wilayah, yakni A dan B, dengan dua musim tanam setiap tahun.

Pada musim tanam pertama, wilayah A memperoleh pasokan air untuk menanam padi, sedangkan wilayah B menanam komoditas hortikultura seperti bunga atau kacang-kacangan. Sebaliknya, pada musim tanam kedua, wilayah B menanam padi, sementara wilayah A beralih menanam palawija.

Selain pengaturan pola tanam, penggunaan teknologi System of Rice Intensification (SRI) juga menjadi salah satu solusi untuk menghemat penggunaan air. Di Indonesia, konsep tersebut banyak diterapkan melalui sistem tanam jajar legowo.

Menurut Made Sarjana, penerapan SRI mampu menghemat kebutuhan benih sekitar 10-15 persen dan mengurangi penggunaan air irigasi hingga 25-50 persen.

“Kendala utamanya adalah keyakinan petani dalam menerapkan inovasi budidaya padi. Masih banyak yang beranggapan bahwa sawah harus selalu digenangi air agar hasil panennya baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *