catrawarta.com — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa telah menewaskan sekitar 1.000 orang di Prancis. Sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia (lansia), sementara jutaan warga di berbagai negara Eropa masih menghadapi suhu udara yang sangat tinggi.
Badan Kesehatan Masyarakat Prancis, yang berada di bawah Kementerian Kesehatan, pada Minggu (28/6/2026) melaporkan jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring masuknya laporan kematian dari rumah maupun fasilitas perawatan lansia.
Lembaga tersebut menyebutkan mayoritas korban berusia 65 tahun ke atas, meski dampak kesehatan akibat suhu ekstrem dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sejak 20 Juni, gelombang panas melanda Eropa dan memaksa sejumlah museum serta sekolah menghentikan aktivitas lebih awal.
Dikutip dari Al Jazeera, sedikitnya 191 juta orang di Eropa terdampak gelombang panas dengan suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih pada Minggu. Kondisi paling parah terjadi di Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia.
Gelombang panas juga melanda Slovakia, Serbia, Kroasia, Italia, Austria, serta wilayah barat Ukraina.
Meski gelombang panas mulai bergerak ke kawasan Eropa Timur, badan meteorologi Prancis menyatakan sejumlah wilayah di timur laut negara itu masih berada dalam status peringatan cuaca panas ekstrem.
Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengatakan dampak gelombang panas diperkirakan masih akan berlangsung hingga 10 hari ke depan.
“Peristiwa ini belum berakhir,” ujar Rist kepada stasiun televisi BFM, seperti dikutip La Tribune.
Sementara itu, di Jerman sedikitnya tujuh orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan saat berenang sepanjang akhir pekan. Suhu udara yang tinggi mendorong banyak warga memadati danau serta sungai untuk mencari kesejukan.
Di Berlin, polisi dan petugas darurat bahkan rutin menyemprotkan air kepada warga yang berkumpul di bawah pepohonan maupun di tepi sungai sebagai upaya mencegah sengatan panas (heatstroke).

Moh Abdul Wasil dan Apriliana Juara Putra Putri Batik Kota Malang 2026 