catrawarta.com — Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 yang diperingati pada Senin (29/6/2026) mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”. Tema tersebut diangkat berdasarkan hasil Pendataan Keluarga 2025 yang menunjukkan masih tingginya fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah dalam keluarga di Indonesia.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan sekitar 25,8 persen keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami fatherless. Kondisi tersebut lebih banyak ditemukan pada keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja.
“Data menunjukkan keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja memiliki angka fatherless sebesar 63 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan keluarga dengan kepala keluarga yang bekerja, yakni 24,1 persen,” kata Wihaji.
Ia menjelaskan, hilangnya peran ayah secara ekonomi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko fatherless dalam keluarga.
Berdasarkan Pendataan Keluarga 2025, angka fatherless tertinggi tercatat di Papua Pegunungan sebesar 50,2 persen, disusul Papua Selatan (40,1 persen), Papua Tengah (39,4 persen), Papua (30,4 persen), Sumatra Utara (30,4 persen), Jawa Barat (29,5 persen), Sumatra Barat (28,5 persen), dan Sulawesi Selatan (28,1 persen). Sementara itu, Bali menjadi provinsi dengan angka fatherless terendah, yakni 15,1 persen.

Pendataan tersebut juga menunjukkan fenomena fatherless sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan. Salah satu penyebabnya adalah banyak kepala keluarga yang merantau untuk mencari nafkah.
“Di perdesaan angkanya sekitar 26,3 persen karena banyak bapak mencari pekerjaan di luar daerah, sedangkan di perkotaan sebesar 25,4 persen,” ujar Wihaji.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof. Euis Sunarti dalam siniar IPBmengingatkan agar data tersebut tidak dimaknai sebagai kegagalan keluarga, melainkan menjadi peringatan untuk memperkuat kualitas pengasuhan.
“Itu warning agar kita meningkatkan kesadaran. Jangan langsung memaknai semua kondisi itu berdampak buruk,” ujarnya dalam siniar IPB University.
Menurut Euis, yang paling penting bukan sekadar keberadaan ayah secara fisik, melainkan apakah fungsi pengasuhan benar-benar dijalankan.
“Jadi bukan soal ada atau tidaknya ayah, tetapi apakah fungsi pengasuhan itu hadir,” katanya.
Ia menambahkan, orang tua perlu menjadikan anak sebagai prioritas dengan membangun core memory atau kenangan positif melalui kebersamaan yang dirancang secara sadar.
“Tidak selalu soal lamanya waktu. Menyapa, mendengarkan, atau membuat agenda khusus bersama anak bisa membuat kehadiran ayah benar-benar dirasakan,” ujarnya.

