Catra Budaya

STA Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Sunu Wasono: Dia Pelopor Penulisan Kritik Sastra

Sutan Takdir Alisjahbana (STA), pelopor bahasa Indonesia dan peletak dasar kritik sastra, diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Kontribusi pendiri majalah Pujangga Baru dan...

Old man with short white hair sitting in a garden wearing a brown and white tropical patterned shirt and a white turtleneck looking thoughtful
Sutan Takdir Alisjahbana. (Sumber: Tangkapan Layar YT BeBaSIn TV)

catrawarta.comSutan Takdir Alisjahbana (STA) adalah pejuang bahasa Indonesia. Dialah yang menjadi salah satu pelopor peralihan dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Sejak berdirinya majalah Poedjangga Baroe perhatian STA terhadap bahasa Indonesia besar.

Demikian disampaikan dosen FIB UI, Dr. Sunu Wasono, M.Hum, kepada catrawarta.com, Jumat (26/6/2026) malam. Sebagaimana diketahui, Sutan Takdir Alisjahbana diusulkan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Sunu adalah salah satu narasumber seminar nasional jejak kepahlawanan STA yang digelar Universitas Nasional pada 30 Juni 2026.

Lebih jauh disampaikan, STA mengkritik pengajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dikatakannya mengandung banyak kelemahan, di antaranya beku. “Dikatakannya pula bahwa pengajaran bahasa Indonesia di sekolah harus dibongkar dengan urat dan akarnya”, tandas sastrawan kelahiran Wonogiri ini.

Di bidang sastra, lanjut penulis antologi Jagad Lelembut ini, STA juga menyatakan pentingnya ditumbuhkan semangat, pandangan, dan orientasi baru.

“Satu hal, STA memelopori penulisan kritik sastra. Dialah orang pertama yang menggunakan istilah kritik kesusasteraan. Karya sejawatnya (Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sanusi Pane) dibahas STA di majalah PB. Ia juga menulis resensi buku yang dimuat di PB juga. Jadi bolehlah STA dianggap sebagai pelopor dan peletak dasar penulisan kritik sastra Indonesia yang dalam perkembangan kemudian dilanjutkan oleh H.B. Jassin”, pungkas penulis buku Sastra Propaganda ini.

Dikenal sebagai pemikir, sastrawan, budayawan dengan beragam karya, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) diusulkan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Kontribusi dan warisan intelektualnya harus dipelajar generasi penerus sebagai bagian pembentukan identitas kebahasaan dan kebudayaan nasional.

Dikutip dari unas.ac.id, STA merupakan tokoh penting dalam tumbuh kembang bahasa, sastra dan kebudayaan Indonesia. Dukungan pengusulan gelar Pahlawan Nasional juga diberikan oleh pihak keluarga. Tercatat, pada 2023 putri STA, Tamalia Alisjahbana, sudah menyampaikan perlunya membaca kembali pemikiran STA agar tidak salah paham.

Lahir di Mandailing Natal Sumatra Utara pada 11 Februari 1908, STA dikenal sebagai pendiri majalah Pujangga Baru (1933) yang kemudian menandai angkatan dalam sastra Indonesia. Bagaimana pemikiran STA sejak awal periode pergerakan nasional bisa dilacak dalam perdebatan intelektual yang legendaris dan dikenal dengan Polemik Kebudayaan pada 1930-an. Pada 1936, STA sudah menerbitkan buku Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia hingga menjadi Ketua Komisi Bahasa pada masa pendudukan Jepang.

Layar Terkembang merupakan salah satu karyanya yang cukup dikenal dan sering dijadikan pijakan dalam menilai cakrawala STA terkait ideologi pembaruan, kemajuan, kesetaraan, dan kemandirian. Puluhan karyanya merefleksikan betapa luas dan mendalam pemahamannya pada filsafat, bahasa, kebudayaan dan peradaban.

Wafat pada 17 Juli 1994, pendiri Universitas Nasional ini memperoleh Satyalencana Kebudayaan (1970), Bintang Mahaputera Nararya (2000), dan Bintang Mahaputera Adipradana (2010) dari pemerintah Indonesia. Tercatat, ada tiga perempuan yang sempat mendampingi hidupnya, yakni RA Rohani Daha (wafat 1935), RR Sugiarti (wafat 1952) dan Dr. Margaret Axer (wafat 1994).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *