catrawarta.com — Isu gempa luar biasa atau megathrust bakal menimpa Jawa. Bukan bohong atau menakut-nakuti, tetapi ancaman itu nyata. Hal itu bisa menjadi fondasi untuk memperkuat literasi dan mitigasi bencana. Kesiapan menghadapi bencana menjadi kunci saat terjadi bencana luar biasa seperti megathrust.
Menurut mantan Kepala Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG), Prof Dwikorita Karnawati mengungkapkan adanya seismic gap (zona kekosongan gempa besar) di titik kritis seperti Selat Sunda, Selatan Jawa, dan Mentawai yang telah menyimpan energi selama lebih dari 200 tahun.
Ia menyampaikan itu dalam satu kesempatan ketika berdiskusi di kampus UGM baru-baru ini. Dalam rilisnya ia mengatakan hendaknya masyarakat tidak mudah terpancing hoaks sehingga selalu siap siaga merespons skenario terburuk kapan pun bencana tiba.
Memang, Dwikorita menjelaskan belum ada penelitian akurat yang dapat memprediksi gempa. Kendati demikian para ilmuwan terus mengupayakan meskipun hasilnya belum maksimal. Ia menekankan, seluruh penelitian dan prediksi ilmuwan menjadi dasar menyusun mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
”Hasil riset perlu untuk membangun skenario. Skenario adalah suatu asumsi seandainya itu terjadi. Karena tanpa skenario sama sekali, tidak ada dasar pegangan untuk melakukan mitigasi,” tandas pakar geologi tersebut.
Ancaman Sesar Aktif
Sementara itu, pakar gempa Gayatri Indah Marliyani PhD menambahkan, pemahaman geologi mengenai ancaman sesar aktif dan potensi megathrust di Selatan Jawa sangat krusial. Menurutnya pemahaman tersebut sebagai fondasi utama mitigasi bencana, bukan untuk memicu kepanikan.
Ia mengakui ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi dan adanya tantangan hilangnya memori kolektif mengenai bencana pada generasi muda pascagempa Yogyakarta 2006. Ia mengingatkan ketimbang menebak-nebak kapan gempa akan terjadi, lebih baik memitigasi risiko bencana.
Menurutnya, megathrust pernah terjadi dalam 32 tahun terakhir di Jawa, yaitu pada tahun 1994 di Banyuwangi Selatan disertai tsunami destruktif dan tahun 2006 di Pangandaran yang juga disertai tsunami, tak lama setelah gempa darat Yogyakarta.
Mengenai ancaman megathrust tersebut, ia mengajak masyarakat dan pemerintah untuk membangun infrastruktur rumah yang tahan gempa. Selain itu, membuat dan mengenali jalur evakuasi, serta mengikuti informasi yang valid agar tidak termakan hoaks.
Hoaks paling parah pernah terjadi tahun 2006 usai gempa bumi besar melanda Yogyakarta. Tak berapa lama usai gempa, muncul isu yang menyebutkan tsunami bakal melanda Yogyakarta. Orang berbondong-bondong meninggalkan rumah, menuju ke arah utara yang lebih tinggi. Jalan-jalan macet, semua orang berebut meninggalkan rumah guna mencari tempat aman.
Akibat fatalnya, banyak terjadi pencurian karena rumah kosong ditinggalkan pemiliknya. Tak sedikit yang kehilangan barang-barang berharga, mereka panik akibat hoaks yang terus tersebar.

Kampus UBK Nonaktifkan Mahasiswa Penerima Suap 