Catra Budaya

Cap Tangan Tertua di Dunia Ditemukan di Pulau Muna

Manusia purba tidak hanya meninggalkan jejak keberadaan melalui alat-alat batu dan fosil, tetapi juga melalui karya seni yang tersimpan di dinding gua.

Cap tangan manusia yang ditemukan di liang metanduno pulau muna sulawesi tenggara memiliki usia minimum 67 800 tahun
Cap tangan manusia yang ditemukan di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, memiliki usia minimum 67.800 tahun. (dok Siswantini Suryandari)

catrawarta.comManusia purba tidak hanya meninggalkan jejak keberadaan melalui alat-alat batu dan fosil, tetapi juga melalui karya seni yang tersimpan di dinding gua selama puluhan ribu tahun. Temuan terbaru menunjukkan bahwa salah satu karya seni tertua dunia berada di Indonesia.

Peneliti gambar cadas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Adhi Agus Oktaviana, mengungkapkan bahwa cap tangan manusia yang ditemukan di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, memiliki usia 67.800 tahun.

Temuan tersebut disampaikan dalam diskusi terbuka BiSA Cadas (Bincang Sejarah Awal) bertajuk Lukisan Cadas Cerita dari Gua di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu (21/6/2026).

Manusia purba tidak hanya meninggalkan jejak keberadaan melalui alat alat batu dan fosil tetapi juga melalui karya seni yang tersimpan di dinding gua
Diskusi terbuka BiSA Cadas (Bincang Sejarah Awal) bertajuk Lukisan Cadas Cerita dari Gua di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu (21/6/2026) bersama Karina Arifin (tengah) dan Adhi Agus Oktaviana. (dok Siswantini Suryandari)

Menurut Adhi, usia cap tangan di Pulau Muna menjadikannya lebih tua dibandingkan temuan seni cadas sebelumnya di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, maupun cap tangan prasejarah di Spanyol yang selama ini dikenal sebagai salah satu seni gua tertua di dunia.

“Usia minimum seni cadas Pulau Muna ini lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan seni cadas dari Maros-Pangkep dan di Spanyol yang ditemukan sebelumnya,” kata Adhi.

Ia menjelaskan, penelitian yang dilakukan bersama Griffith University, Australia, menggunakan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua.

Hasil analisis menunjukkan umur lapisan tersebut mencapai 71,6 ± 3,8 ribu tahun. Berdasarkan perhitungan tersebut, para peneliti menetapkan usia minimum cap tangan di Liang Metanduno sekitar 67.800 tahun. Hasil penelitian itu telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Nature.

Menurut Adhi, temuan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah awal seni simbolik manusia modern sekaligus memberikan bukti bahwa manusia telah mampu melakukan penyeberangan laut secara sengaja hampir 70 ribu tahun lalu.

Temuan tersebut juga memperkuat pandangan bahwa kawasan Wallacea bukan sekadar jalur migrasi menuju Australia, melainkan wilayah hunian penting bagi manusia modern awal.

“Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” ujarnya.

Penemuan ini sekaligus memperkuat teori bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul, yang mencakup Australia dan Papua, setidaknya sekitar 65 ribu tahun lalu.

Cap Tangan Anak hingga Jari Menyerupai Cakar

Manusia purba tidak hanya meninggalkan jejak keberadaan melalui alat alat batu dan fosil tetapi juga melalui karya seni yang tersimpan di dinding gua
Seni cadas dibuat menggunakan pigmen oker dari tanah atau mineral kaya zat besi sehingga menghasilkan warna merah, jingga, dan cokelat. (dok Siswantini Suryandari)

Adhi menjelaskan, seni cadas tersebut dibuat menggunakan pigmen oker yang berasal dari tanah atau mineral kaya zat besi sehingga menghasilkan warna merah, jingga, dan cokelat. Sementara warna hitam dibuat dari arang.

Teknik pembuatannya beragam. Sebagian gambar dibuat menggunakan kuas untuk membentuk garis dan pewarnaan, sedangkan cap tangan dibuat dengan teknik semprot.

Menariknya, cap tangan yang ditemukan tidak hanya berasal dari orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Peneliti juga menemukan cap tangan dengan bentuk jari yang menyerupai cakar atau jari runcing (narrow finger) yang hingga kini belum diketahui maknanya.

Sebaran Gambar Cadas di Indonesia

Arkeolog Universitas Indonesia, Karina Arifin, PhD mengatakan Indonesia merupakan salah satu wilayah dengan sebaran gambar cadas yang sangat luas.

Menurutnya, gambar cadas ditemukan di berbagai kawasan karst di Sulawesi, antara lain Maros-Pangkep, Bone, Danau Towuti, dan Pulau Muna.

Di Kalimantan, gambar cadas ditemukan di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, serta wilayah Sabah dan Sarawak. Sementara di Papua, gambar cadas tersebar di Misool, Teluk Berau, Kaimana, Tutari, Biak Numfor, dan Keerom.

Jejak serupa juga ditemukan di Pulau Seram, Kepulauan Kei, Pulau Buru, dan Pulau Kisar di Maluku. Adapun di Nusa Tenggara ditemukan di Flores dan Timor Leste, sedangkan di Sumatra ditemukan di Gua Harimau.

Karina menjelaskan bahwa gambar cadas tidak hanya berupa cap tangan, tetapi juga menggambarkan berbagai objek yang dekat dengan kehidupan manusia masa itu, seperti binatang, perahu, matahari, wajah manusia, hingga alat berburu.

“Manusia prasejarah menggambar sesuatu yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu banyak ditemukan gambar babi, ikan, tapir, perahu, kapak, maupun matahari,” katanya.

Makna Cap Tangan Masih Menjadi Misteri

Meski telah banyak ditemukan di berbagai situs prasejarah, makna cap tangan masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog.

Berbagai teori telah dikemukakan, mulai dari simbol penolak bala hingga bentuk ekspresi individu tertentu. Namun hingga kini belum ada kesepakatan ilmiah mengenai tujuan pasti pembuatan cap tangan tersebut.

Karina juga menyoroti adanya gambar manusia maupun binatang yang dilengkapi bulu mata. Menurutnya, sebagian peneliti menduga hal itu menunjukkan figur yang dianggap penting atau disayangi sehingga digambarkan lebih indah.

Namun berbagai dugaan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Manusia purba tidak hanya meninggalkan jejak keberadaan melalui alat alat batu dan fosil tetapi juga melalui karya seni yang tersimpan di dinding gua
Lukisam cadas yang ditemukan di gua pesisir Teluk Bitsyari, Kabupatenn Kaimana, Papua Barat. (dok Siswantini Suryandari)

Ia juga menjelaskan bahwa warna merah mendominasi lukisan cadas karena lebih tahan terhadap pelapukan dibandingkan warna lain. Dalam sejumlah penelitian, ditemukan pula lukisan berwarna putih dan gambar yang dibuat di luar gua, namun sebagian besar telah memudar akibat paparan cuaca dan perubahan iklim.

“Warna merah lebih awet dan tidak mudah pudar. Selain itu, lukisan yang berada di dalam gua lebih terlindungi sehingga dapat bertahan hingga ribuan tahun,” ujar Karina.

Terancam Grafiti dan Aktivitas Wisata

Karina mengingatkan bahwa pelestarian gambar cadas menghadapi berbagai tantangan, terutama vandalisme berupa grafiti yang dibuat pengunjung di sekitar situs.

Selain itu, sejumlah gua yang memiliki nilai arkeologis tinggi kini menjadi destinasi wisata sehingga tingkat kunjungan manusia semakin meningkat.

Menurutnya, situs-situs yang berada di lokasi terpencil dan jauh dari permukiman penduduk justru cenderung lebih terjaga.

“Alhamdulillah, gua-gua purbakala yang berada di lokasi terpencil masih relatif aman sehingga warisan arkeologisnya lebih terjaga dibandingkan situs yang ramai dikunjungi wisatawan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *