catrawarta.com — Panggung politik nasional mulai menghangat. Gerakan mahasiswa yang mulai demonstrasi di berbagai kota menandakan ada ketersumbatan komunikasi politik. Penyimpangan dan penyelewengan kekuasaan tak bisa dibiarkan karena akan mempertaruhkan nasib rakyat.
Dalam kontelasi itu mencuat nama Tiyo Ardianto, mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) periode 2025. Banyak orang sempat meragukan, ada yang memandang sebelah mata, kapasitas dan integritasnya mengingat dia masuk UGM melalui jalur ijazah Paket C (PKBM Omah Dongeng Marwah Kudus). Namun, akselerasi gerakan dan artikulasinya dalam menyuarakan aspirasi mampu mematahkan pandangan orang. Semakin sering menjadi narasumber atau orasi, menjadikan Tiyo sebagai pusat perhatian.
UGM, mestinya, berbangga dengan kehadiran dan dan sepak terjang Tiyo di berbagai forum. Suaranya kalem tapi tak menghilangkan nyali untuk mengkritisi kekuasaan. Tanpa tedeng aling-aling dia membidik kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Harus diakui, kemampuannya dalam mengartikulasikan pendapat dan aspirasi selevel di atas teman-teman mahasiswa seusianya. Hanya mahasiswa berintegritas yang bisa terpilih sebagai Ketua BEM UGM. Mekanisme demokrasi internal kampus ini masih relatif clean dari kepentingan politik.
Di tengah kontroversi ijazah Joko Widodo, suara Tiyo seolah mampu memecah gumpalan pro dan kontra menyangkut validitas ijazah yang sempat menjadikan Kampus Biru menjadi sasaran tembak. Bagaimanapun, kampus Bulaksumur dikenal dengan integritasnya dalam keilmuan dan pengabdiannya pada kepentingan rakyat. Bahwa kemudian dosen dan mantan aktivis kemudian berada di ring kekuasaan dan menduduki sejumlah jabatan, itu persoalan lain. Namun, regenerasi aktivis di Kampus Kerakyatan ini belum mandul dan masih berjalan alamiah.
Bukan hal aneh jika kemudian Tiyo coba dihadang dan dipatahkan perjuangannya. Dari pengacara Hotman Paris sampai mantan Menpora Adhyaksa Dault, melihatnya sebagai anak muda yang menghina presiden dan karenanya perlu dijatuhi hukuman. Idrus Marham, mantan menteri yang pernah tersangkut kasus korupsi, juga mempertanyakan etika Tiyo sambil menanyakan perannya bagi Indonesia.
Dalam salah satu konten di kanalnya, Amien Rais harus merevisi postingan sebelumnya bahwa akan mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sampai 2029. Logikanya sederhana, Prabowo menjauh dari upaya realisasi janji kampanyenya dan mendukung status quo mantan Presiden Jokowi. Indikator yang disampaikan mantan Ketua MPR di di awal reformasi ini, Prabowo tak berani mengganti Panglima TNI dan Kapolri yang disebut gang Solo.
Bila memang demikian, peta menjadi jelas kenapa akseletasi demonstrasi semakin besar dan merata. Selain makin beratnya beban hidup rakyat juga disebabkan lambannya pemerintah dalam menyelesaikan kasus-kasus besar yang melibatkan kelompok oligarkhi. Ini soal integritas bangsa, bagaimana bisa tak bernyali menghadapi pengusaha kakap yang telah menjadikan negeri ini ladang eksploitasi. Pajak dan kenaikan harga BBM juga tak bisa diabaikan sebagai faktor pendorong gerakan mahasiswa.
Sebagai kelompok intelektual, mahasiswa memang memiliki hak sejarah dalam menyuarakan hati nurani. Lembaran sejarah bangsa ini penuh dengan kepeloporan kaum mahasiswa. Karakter mereka memang pendobrak, nyaring bersuara dan mampu bergerak secara organis. Apa jadinya negeri ini jika kaum muda dan mahasiswanya abai pada masalah kebangsaan, gamang melihat persoalan dan ciut nyali menghadapi kekuasaan. Bukankah mereka pemilik masa depan bangsa ini?
Harapan kita, pemerintah harus mampu mendengar jeritan rakyat yang disuarakan Tiyo dan teman-teman mahasiswanya. Asal ada itikad baik untuk memperbaiki keadaan, sambil menghukum keras para koruptor perusak mental bangsa, mahasiswa tentu juga akan tahu diri. Kita tak ingin bangsa ini selalu berangkat dari titik nol hanya karena gagal mewujudkan amanat penderitaan rakyat dan lupa tujuan pembentukan negara. Kita sama-sama mencintai negeri ini, apapun bentuk ekspresi dan artikulasinya, karena sejarah Indonesia masih harus ditulis dan dipertanggung jawabkan. Semoga.
Ksatrian Sendaren, 14 Juni 2026

