catrawarta.com — Selama dua hari, 11-12 Juni 2026, saya diminta menjadi narasumber dalam Pelatihan dan Sertifikasi 55 mahasiswa Universitas Jember. Difasilitasi LSP Pariwisata Indonusa, mengambil topik Perencanaan Desa Wisata.
Ada tiga hal yang menarik untuk dielaborasi sebagai catatan bersama. Pertama, keinginan! Unek untuk membekali para mahasiswanya agar berkompeten melalui sertifikasi secara resmi sebagai bagian tuntutan vokasional. Kedua, pemilihan topik yang menempatkan desa wisata sebagai pilihan program pengabdian yang fokus pada upaya pemberdayaan masyarakat. Ketiga, fakta lapangan yang merepresentasikan dinamika pengelolaan usaha desa wisata, sebagai bagian pemberdayaan potensi masyarakat, yang tak semudah dibayangkan.
Secara prosedural akademis tak ada yang sulit dengan pelatihan yang dikembangkan. Jika ia menyangkut manajerial, seperti ditekankan Kaprodi Ekonomi Pembangunan Universitas Jember, Dr. Herman Cahyo Diartho, S.E., M.P., banyak hal bisa dibaca dan dipelajari para mahasiswa melalui beragam media pembelajaran. Namun upaya sertifikasi merupakan tuntutan kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh dan profesional.
Dalam konteks itu, pelatihan dan sertifikasi lebih diarahkan tidak saja pada pemahaman secara komprehensif tentang beragam aspek manajemen tetapi juga upaya pencarian solusi atas sejumlah permasalahan yang sering dihadapi para pengelola desa wisata. Dua hal bisa disebut sebagai katarsis, yakni modernisasi atau digitalisasi sistem pengelolaan dan pelayanan, serta, upaya konservasi yang justru sering di-back up oleh local wisdom. Jika tidak memahami karakter dan akar budaya masyarakat, kedua hal bisa saling berbenturan.
Faktor lain yang turut memengaruhi dinamika desa wisata, selain yang sudah sering dibahas, adalah ambisi untuk segera melihat hasil. Lupa pada proses, abai pada karakter masyarakat, dan salah dalam membaca potensi. Ini tidak saja diperlukan seni tersendiri, tetapi juga meminta cadangan energi yang besar. Bahwa proses panjang pengembangan desa wisata, sejak identifikasi potensi sampai inagurasi, jelas memerlukan kesadaran dan ketekunan segenap fasilitator dan pengelola. Permasalahan justru datang setelah launching desa wisata terutama terkait upaya menjalankan program day to day.
Oleh karena itu, perencanaan menjadi aspek penting untuk diperhatikan baik bagi fasilitator, pengelola maupun warga masyarakat. Perencanaan yang berbasis karakter lokal atau keunikan desa perlu disertai dengan pendekatan multidimensi. Bahwa desa adalah entitas multikompleks yang terlalu sayang jika dilihat dari satu kaca mata. Perlu kiranya memahami desa dari perspektif sejarah, antropologi, sosiologi, geografi, ekonomi, ekologi, arkeologi dan sistem pemerintahan. Harapannya, dengan pendekatan multidimensi itu akan memperoleh deskripsi yang utuh, holistik dan terpadu tentang desa.
Mengandalkan pemberdayaan potensi desa wisata hanya dengan satu pendekatan, tentu tidak dilarang, tetapi kita akan dihadapkan pada hasil yang kurang maksimal. Itulah kenapa sering terjadi kerusakan ekosistem desa akibat kesalahan pendekatan yang tak sesuai dengan karakternya. Desa yang memiliki mekanisme adat dalam menjaga kohesi sosial budayanya, misalnya, hanya perlu dilihat dari jauh. Tak perlulah kita, sebagai manusia modern, merasa lebih tahu dari mereka terkait konservasi alam dan lingkungan. Bukankah masyarakat adat jauh lebih lihai dalam menjaga alam dan huta dibandingkan dengan kita?
Dalam perspektif itu, membekali mahasiswa dan para pengelola desa wisata dengan pendekatan yang multidimensi dan holistik adalah sebuah keniscayaan. Konsekuensi logisnya, pendidikan tinggi kita sedang tidak diorientasikan ke arah sana. Pendidikan kita ramah pasar, prokapitalis, dan menjauh dari local wisdom. Tak ada yang melarang dengan investasi atau industrialisasi, tetapi tak semua desa wisata harus diarahkan kesana. Bisa jadi kita hanya tinggal mendampingi mereka dalam advokasi terkait pelestarian dan konservasi alam lingkungan. Meskipun ecotourism atau sustainable tourism sudah lama diperbincangkan, faktanya kerusakan alam dan biodiversitas semakin massif terjadi.
Boleh jadi solusi atas semua kerusakan itu berada di luar kita. Sangat mungkin pemerintah telah gagal menjaga amanah yang diberikan. Tetapi, tetap saja ada tanggung jawab moral pada diri kita untuk andil, cawe-cawe, dalam upaya pelestarian alam dan lingkungan. Semoga masih ada waktu.
Ksatrian Sendaren, 14 Juni 2026

