catrawarta.com — Pura Mangkunegaran, Solo, akan menggelar kirab pusaka dalam peringatan malam 1 Sura pada Selasa (16/6/2026) pukul 20.00 WIB. Tahun ini, peringatan 1 Sura di Mangkunegaran disebut memiliki warna yang lebih sakral karena dirangkai dengan tirakatan selama 24 jam.
Ketua panitia penyelenggara Kirab Pusaka Malam 1 Sura Pura Mangkunegaran, G.R.aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Sura, menjelaskan bahwa 1 Sura tidak ditempatkan sebagai tontonan atau festival semata. Bagi Mangkunegaran, malam itu menjadi undangan untuk mulih, hadir kembali, melepaskan yang sudah lewat, dan menyambut yang akan datang dengan batin yang lebih tertata.
Seluruh rangkaian peringatan disusun sebagai satu kesatuan laku. Acara dimulai dari santap sore sebagai ungkapan syukur di Pracima Tuin, kemudian dilanjutkan kirab pusaka dalem dengan tapa bisu mengelilingi tembok luar Pura Mangkunegaran. Setelah itu, rangkaian berlanjut dengan semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng pada tengah malam, serta aktivitas meditasi di Pracima Tuin.
“1 Sura adalah malam yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ruang hening. Waktu melepaskan yang telah lewat (Atita), hadir sepenuhnya di saat ini (Atiki) dan menyambut yang akan datang (Anagata),” kata Gusti Sura di Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, Kamis (11/6/2026).
“Yang membuat peringatan 1 Sura di Mangkunegaran unik dan lebih sakral dari tahun-tahun sebelumnya adalah rangkaian tirakatan sepanjang 24 jam yang berlangsung di tiga fase,” ujarnya.
Pura Mangkunegaran juga mengundang 10.000 warga untuk hadir menyaksikan langsung prosesi kirab pusaka dalem malam 1 Sura. Rute kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran, Ngarsopuro atau Jalan Diponegoro, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, kembali ke Ngarsopuro, lalu berakhir di Pura Mangkunegaran. Sekitar 2.500 peserta direncanakan ikut dalam prosesi tersebut.
Masyarakat dapat berkumpul di halaman depan Pura Mangkunegaran atau Pamedan. Di lokasi itu, panitia akan menyediakan layar besar agar warga tetap bisa menyaksikan jalannya kirab secara langsung.
Mengenai cucuk lampah dan jumlah pusaka yang akan dikirab, Gusti Sura menyebut pihaknya masih menunggu dawuh dalem dari KGPAA Mangkunegara X. “Untuk pusaka yang keluar kita masih menunggu dawuh dari Kanjeng Gusti,” ungkap dia.
Rangkaian peringatan malam 1 Sura akan ditutup pada 17 Juni 2026 dengan kegiatan meditasi. Acara dimulai melalui Laku Catur Sembah sebagai ritual penyambutan fajar, dilanjutkan menulis kartu harapan, dan ditutup dengan sesi Larasati, yakni meditasi napas dan harmoni yang berkolaborasi dengan Terigu Studio dan Bottlesmoker.
Dalam tradisi Jawa, 1 Sura selalu memiliki tempat khusus sebagai waktu untuk menepi sejenak dari keramaian. Karena itu, kirab dan tirakatan di Mangkunegaran bukan hanya ruang budaya untuk disaksikan, tetapi juga ajakan bagi warga untuk ikut merawat ingatan, ketenangan, dan hubungan mereka dengan akar tradisi Solo.

Kopi Arabika Kintamani Dijaga Subak Abian dan Adat 