Catra Budaya, Warta

Perahu Sandeq, Jejak Kejeniusan Teknologi Maritim Suku Mandar

catrawarta.com — Perahu sandeq sangat identik dengan masyarakat suku Mandar di Sulawesi Barat. Perahu tradisional bercadik ini dikenal sebagai salah satu perahu...

Rumpon atau roppong laut dalam sebuah teknologi yang dikembangkan pelaut mandar yang menyebar ke wilayah perairan nusantara hingga manca negara
Rumpon atau roppong laut dalam, sebuah teknologi yang dikembangkan pelaut Mandar yang menyebar ke wilayah perairan Nusantara hingga manca negara. (Dok. Muhammad Ridwan Alimuddin)

catrawarta.comPerahu sandeq sangat identik dengan masyarakat suku Mandar di Sulawesi Barat. Perahu tradisional bercadik ini dikenal sebagai salah satu perahu tanpa mesin tercepat di dunia karena sepenuhnya mengandalkan tenaga angin dan keahlian pelaut dalam mengendalikan layar.

Perahu sandeq mampu melaju hingga 20-30 knot atau sekitar 50 kilometer per jam. Kecepatan itu menjadikannya simbol ketangguhan sekaligus kecerdasan maritim masyarakat Mandar.

Sejumlah tokoh asal Mandar juga dikenal luas di Indonesia, di antaranya almarhum Baharuddin Lopa yang pernah menjabat Jaksa Agung, pakar hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar, hingga pedangdut Cici Paramida.

Peneliti, jurnalis, sejarawan, dan budayawan maritim Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, mengatakan perahu sandeq merupakan simbol kejayaan pelaut Mandar yang diwariskan turun-temurun.

“Masyarakat Mandar menyebutnya lopi sandeq atau perahu sandeq,” kata Ridwan, Kamis (4/6/2026).

Dalam buku The Bugis, antropolog Christian Pelras menyebut orang Mandar sebagai pelaut ulung. Ridwan mengutip pernyataan Pelras yang pernah dimuat di Harian Kompas bahwa orang Bugis sejatinya dikenal sebagai pedagang, sementara masyarakat Mandar dianggap lebih tepat disebut pelaut tangguh.
“Kalau mau menyebut pelaut ulung adalah orang Mandar,” ujar Ridwan mengutip Pelras.

Menurut Pelras, keunggulan masyarakat Mandar bukan berasal dari teknologi modern, melainkan kemampuan mereka menciptakan teknologi perikanan lokal seperti rumpon atau roppong serta perahu sandeq.

Perahu sandeq sendiri merupakan perahu bercadik. Dalam bahasa Mandar, kata “sandeq” berarti runcing. Bentuknya yang ramping membuat perahu ini mampu membelah ombak dengan cepat.

Man with short hair and goatee wearing a dark patterned shirt speaks to camera in a library or bookstore backdrop with shelves behind him
Peneliti, jurnalis, sejarawan, dan budayawan maritim Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin (Dok. Alimuddin)

Ridwan menjelaskan, antropolog asal Jerman dan pakar kemaritiman Nusantara, Horst H. Leibner, bahkan menyebut sandeq sebagai puncak evolusi perahu bercadik tradisional Austronesia.

Menurut Leibner, desain sandeq sangat memenuhi prinsip hidrodinamika karena bentuknya pipih, ringan, dan ramping sehingga meminimalkan gaya gesek air dan tetap stabil meski diterpa angin kencang serta gelombang tinggi.

“Perahu sandeq digunakan masyarakat maritim Mandar untuk mencari ikan sekaligus menjual hasil tangkapan ke pasar-pasar tempat mereka berlabuh. Jalur pelayarannya menjelajah hingga Selat Malaka, Pulau Jawa, Laut Sulu, dan Papua,” terang Ridwan.

Bahkan di Malaysia ada diaspora Mandar yang sudah turun temurun selain bekerja sebagai nelayan juga ada yang berkebun di perkebunan sawit. Ia menambahkan, perahu bercadik ini awalnya menggunakan layar segi empat yang disebut layar tanjaq. Bentuk layar tersebut mirip dengan layar perahu tradisional yang terpahat pada relief Candi Borobudur.

“Layar tanjaq adalah desain layar khas Austronesia yang memanfaatkan tenaga angin secara optimal,” ujarnya.

Ridwan mengatakan, para pelaut Mandar belajar dari berbagai bentuk kapal yang mereka lihat di banyak dermaga saat berlayar ke berbagai wilayah. Dari pengalaman itulah lahir inovasi desain perahu sandeq.

Perahu sandeq merupakan evolusi dari perahu pendahulunya bernama pakur yang menggunakan layar segi empat seperti di relief Borobudur. Dalam perkembangannya, layar tanjaq kemudian berubah menjadi layar segitiga agar lebih adaptif terhadap kondisi angin.

“Layar tanjaq merupakan bukti kejeniusan pelaut Nusantara selama ribuan tahun,” katanya.

Menurut Ridwan, evolusi desain sandeq menunjukkan karakter masyarakat Mandar yang dinamis, terbuka terhadap perubahan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Saat ini, sekitar 90 persen perahu sandeq telah menggunakan mesin untuk menyesuaikan kebutuhan nelayan modern. Meski demikian, perahu sandeq klasik masih tetap dipertahankan.

Perahu sandeq saat melakukan perburuan telur ikan terbang di  selat makassar
Perahu Sandeq saat melakukan perburuan telur ikan terbang di Selat Makassar.
(Dok. Muhammad Ridwan Alimuddin)

“Sejak Agustus 1995 digelar lomba perahu sandeq tradisional untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI. Momentum ini juga menjadi daya tarik wisata olahraga,” jelasnya.

Penulis buku Sandeq: Perahu Tercepat di Nusantara itu mengakui jumlah perahu sandeq tradisional kini tinggal sekitar selusin unit karena tergerus perkembangan kapal motor. Bagi masyarakat Mandar, sandeq bukan sekadar alat transportasi atau sarana mencari ikan. Perahu ini dianggap memiliki nilai sakral dan “bernyawa” sehingga harus dirawat secara spiritual.

Karena itu, masyarakat Mandar mengenal ritual Kuliwa atau Makkuliwa, yakni doa selamatan yang dilakukan sebelum melaut atau saat membuat perahu sandeq.

Ritual tersebut digelar di atas perahu dengan pembacaan doa barzanji dan puji-pujian oleh tokoh adat serta masyarakat nelayan sebagai bentuk permohonan keselamatan, kesehatan, dan rezeki selama mengarungi lautan.

Untuk perahu baru, ritual juga disertai pemasangan posiq atau lubang kecil di dasar perahu yang dipercaya sebagai titik pusat kekuatan dan “jiwa” perahu.

Dalam aktivitas melaut, nelayan Mandar sangat bergantung pada perubahan musim angin. Saat angin musim timur, mereka berburu telur ikan terbang, sedangkan musim barat dimanfaatkan untuk menangkap tuna.

Para nelayan bisa berbulan-bulan berada di laut. Karena ukuran perahu sandeq kecil dan hanya mampu menampung tiga orang, mereka tidak dapat memasak selama pelayaran.

Sebagai bekal utama, nelayan membawa jepa, makanan tradisional khas Mandar berbahan dasar singkong dan parutan kelapa yang dipipihkan menyerupai pizza. Jepa dimasak dengan cara dipanggang di atas wadah tanah liat. Makanan ini biasanya disantap bersama gula aren atau lauk ikan kuah kuning.

“Saat ini jepa sudah didaftarkan sebagai kekayaan intelektual komunal. Sedangkan perahu sandeq telah resmi tercatat dan dilindungi sebagai bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal Kemenkumham Sulawesi Barat,” ungkap Ridwan.

Keberadaan perahu sandeq juga telah masuk ke dalam kurikulum pendidikan di Sulawesi Barat sebagai model pembelajaran berbasis kearifan lokal maritim Mandar. Materi yang diajarkan meliputi etnomatematika, seperti bentuk dan sudut layar serta cadik, hingga prinsip fisika aerodinamika dan gaya apung pada desain perahu.

“Program ini sudah berjalan empat tahun, tetapi tahun ini ditiadakan karena efisiensi anggaran pemerintah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *