Catra Budaya

Pleret dan Kebesaran Keraton Mataram Islam

catrawarta.com — Nama Pleret tak terpisahkan dari sejarah besar Keraton Mataram Islam. Kapanewon di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini pernah menjadi...

#image_title

catrawarta.comNama Pleret tak terpisahkan dari sejarah besar Keraton Mataram Islam. Kapanewon di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini pernah menjadi pusat kekuasaan kerajaan terbesar di Jawa abad ke-17.

Pleret bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang sejarah yang merekam kejayaan, konflik, dan kejatuhan Mataram Islam.

Wilayah ini menjadi ibu kota kerajaan pada 1647, ketika Amangkurat I memindahkan pusat pemerintahan dari Kerta. Namun jejak Pleret telah lebih dahulu terpatri sejak masa Sultan Agung, raja terbesar Mataram Islam. Di kawasan yang diapit Sungai Gajah Wong dan Sungai Opak ini, kekuasaan politik, militer, dan spiritual kerajaan bertumpu.

Sejumlah situs cagar budaya menjadi saksi bisu masa itu. Salah satu yang terpenting adalah Situs Kerto, bekas keraton pada masa Sultan Agung. Berdasarkan Serat Babad Momana, Kraton Kerto dibangun pada 1617 M. Secara topografis, situs ini berada lebih tinggi dari tanah sekitarnya, sehingga dikenal masyarakat sebagai Lemah Dhuwur.

Di lokasi ini ditemukan dua umpak batu andesit berukuran besar—alas tiang bangunan utama keraton. Pada permukaannya terdapat sterilisasi huruf Arab mim–kha–mim–dal yang jika dirangkai membentuk kata “Muhammad”. Ornamen ini menegaskan kuatnya simbol keislaman dalam arsitektur kekuasaan Mataram. Dahulu terdapat tiga umpak, namun satu di antaranya dipindahkan dan kini digunakan sebagai saka guru Masjid Saka Tunggal di Taman Sari, Yogyakarta.

Tak jauh dari Situs Kerto berdiri Masjid Taqorrub di Dusun Kanggotan. Berdasarkan kajian arkeologis, masjid ini diyakini berdiri di lokasi Masjid Kraton Kerto. Masjid tersebut direnovasi pada 22 Agustus 1901 oleh Kanjeng Raden Adipati Danurejo VI, sebagaimana tercatat dalam prasasti beraksara Jawa dan Arab. Di bagian belakang masjid terdapat makam-makam kuna, termasuk Makam Kyai Kategan, imam besar masjid pada masa lampau.Situs penting lainnya adalah Situs Masjid Agung Kauman Pleret atau Masjid Ngeksigondo. Penelitian Dinas Kebudayaan DIY memastikan lokasi ini sebagai bekas Masjid Agung Kraton Pleret. Masjid ini dibangun pada 1649 dengan ukuran sekitar 40 x 40 meter, mencerminkan kemegahan masjid kerajaan.

Catatan Leemans (1855) menyebutkan, pada 1733 masjid masih memiliki tiga pintu di sisi timur, serambi luas, serta tembok keliling yang tebal dan tinggi. Temuan arkeologis berupa mihrab, umpak, dan struktur bata memperkuat gambaran tersebut. Umpak di situs ini berbentuk bundar—berbeda dari umpak Kerto—dengan jumlah ideal 36 buah, meski kini hanya 25 yang tersisa.

Pusat kedaton Pleret juga ditandai oleh keberadaan Sumur Gumuling, sumber air penting bagi kraton. Sumur ini diyakini bagian dari kompleks Kraton Pleret pada masa Amangkurat I. Fungsinya belum sepenuhnya terungkap; sebagian tradisi menyebut airnya digunakan untuk penyucian pusaka, bahkan dipercaya memiliki keterhubungan spiritual dengan Laut Selatan.

Kini Sumur Gumuling menjadi bagian dari kawasan Museum Purbakala Pleret, sekaligus pusat edukasi sejarah. Pleret hari ini tidak hanya merawat reruntuhan, tetapi menjaga ingatan kolektif tentang peradaban Mataram Islam—bahwa kejayaan pernah tumbuh di sini, dan sejarah selalu menyisakan pelajaran bagi masa depan.

Situs Masjid Kraton Mataram di Kauman Pleret Bantul Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *