Catra Cendekia, Warta

Kasus ISPPD 2026: Dugaan Riset Palsu Peneliti Indonesia di Kopenhagen

catrawarta.com — Nama Rifaldy Fajar dan Prihantini tiba-tiba ramai sejak 25 Mei 2026. Pemicunya adalah sebuah thread panjang di Threads dari akun...

Dugaan Riset Palsu Peneliti Indonesia di Kopenhagen. (Sumber: Threads mandharabrasika)

catrawarta.comNama Rifaldy Fajar dan Prihantini tiba-tiba ramai sejak 25 Mei 2026. Pemicunya adalah sebuah thread panjang di Threads dari akun @mandharabrasika yang menuding keduanya bersama beberapa rekan, memalsukan riset di konferensi internasional ISPPD-14 di Kopenhagen, Denmark.

ISPPD-14 bukan konferensi abal-abal. Berdasarkan situs resminya, acara ini digelar di Bella Center, Kopenhagen, Denmark, 17–21 Mei 2026. ISPPD adalah asosiasi nirlaba internasional bermarkas di Jenewa, Swiss, yang mengadakan pertemuan dua tahunan khusus di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokus. Pesertanya lebih dari 1.000 delegasi per pertemuan.

Untuk mendaftar, peserta harus mengirimkan abstrak maksimal 250 kata melalui portal resmi ISPPD-14. Berdasarkan laman Abstract Submission & Guidelines di situs resmi isppd.kenes.com, seleksi dilakukan berdasarkan kualitas abstrak, negara asal, tahap karier, dan motivasi kehadiran, tanpa mekanisme verifikasi data mentah dari riset yang diklaim.

Cara kerja seperti ini bukan khusus ISPPD, hampir semua konferensi ilmiah internasional berjalan dengan sistem yang sama. Peserta yang lolos seleksi dan memenuhi kriteria bisa mengajukan travel grant, mulai dari registrasi gratis, akomodasi hotel lima malam, dan penggantian biaya perjalanan. Khusus untuk travel grant, pelamar juga wajib menyertakan surat rekomendasi dari kepala departemen atau supervisor.

Rifaldy Fajar dan Prihantini

Berdasarkan profil publik di Living Systems Laboratory KAUST dan situs FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, Rifaldy Fajar adalah alumni S1 Matematika UNY angkatan 2014 yang pernah menjadi visiting student di King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Arab Saudi. Rekam jejak konferensi internasionalnya tercatat sejak 2018, antara lain di Singapura, Tokyo, dan Taipei, di bidang pemodelan matematika biologi.

Prihantini, berdasarkan profil ResearchGate-nya, tercatat sebagai mahasiswa S2 Matematika di ITB dengan beasiswa LPDP.

Kemudian, di Google Scholar Rifaldy Fajar dan abstrak yang dipresentasikan di konferensi KSC 2025, keduanya tercantum dengan afiliasi ‘AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Indonesia’ — sebuah lembaga yang sulit ditemukan jejaknya secara publik.

Tuduhan yang Beredar

Thread @mandharabrasika menyebut sejumlah hal: data riset dibuat menggunakan AI atau fabrikasi, terjadi pemalsuan identitas saat presentasi, poster dicetak hanya ukuran A4, dan pola serupa sudah terjadi di konferensi-konferensi sebelumnya.

Sampai tulisan ini terbit, tidak satu pun dari klaim itu bisa dikonfirmasi secara independen. Pihak penyelenggara ISPPD-14 belum bersuara. Institusi akademik terkait juga belum. Pihak yang dituduh belum memberikan klarifikasi substantif.

Satu hal lagi yang perlu disebutkan, Berdasarkan panduan resmi Abstract Submission ISPPD-14 di isppd.kenes.com tidak ada aturan yang melarang peneliti berlatar matematika mengirim abstrak ke konferensi kedokteran. Latar belakang yang berbeda dari topik riset bukan otomatis bukti kecurangan.

Komentar Rifaldy Fajar

Rifaldy Fajar mewakili timnya mengeluarkan pernyataan tertulis. Pernyataan itu beredar setelah dibagikan oleh akun X @ardisatriawan. Isinya cukup panjang. Ia menyebut berniat memberikan klarifikasi, tapi mengaku kondisinya sudah diperburuk oleh tindakan lanjutan sebelum sempat berbicara.

Saya sebenarnya berniat untuk meluruskan dan memberikan klarifikasi terkait semua ini setelah adanya rangkaian story dari akun sebelah. Namun sebelum kami sempat memberikan penjelasan, kembali muncul tindakan lanjutan yang justru semakin memperburuk keadaan dan sangat memengaruhi mental kami. Situasi ini juga sudah membawa arus netizen yang menurut saya tidak lagi bijak dalam menyikapi permasalahan.”

Sampai tulisan ini diterbitkan, klarifikasi substantif atas tuduhan yang beredar, soal asal data, afiliasi yang tidak bisa ditelusuri, isi riset yang dipresentasikan, belum diberikan. Pernyataan ini lebih banyak berbicara soal kondisi yang mereka hadapi akibat viralnya kasus, bukan menjawab pertanyaan yang diajukan publik. Kalau klarifikasi yang dijanjikan akhirnya muncul, komunitas ilmiah yang merasa dirugikan dan publik yang mengikuti kasus ini berhak mendapat jawaban yang setara beratnya dengan tuduhannya.

Ia juga mengungkapkan bahwa akun-akun media sosial milik Prihantini diretas oleh netizen hingga tidak bisa digunakan sama sekali. “Kami juga tidak mengetahui apabila nantinya akun tersebut disalahgunakan oleh pihak tertentu,” tulisnya. Ia menyayangkan tidak adanya upaya klarifikasi langsung kepada mereka sebelum semuanya disebarkan ke publik, dan menutup pernyataannya dengan meminta semua pihak tidak melakukan serangan personal atau menggiring kebencian.

Reaksi Publik

Di sisi lain, warganet di X dan Threads sudah bereaksi, Akun @txtdarigurugenz menulis: “Anehnya Rifaldy Fajar dan Prihantini ini kan bukan dokter, bukan perawat, bukan apoteker, bukan nakes, gak pernah studi kesehatan atau kedokteran. Tapi kok bisa dapat puluhan travel grant selama 2–3 tahun di bidang spesialis kedokteran semua.”

Di Threads, akun @wahyu_triadmajani lebih langsung: “Mas Rifaldy Fajar, Mbak Prihantini, dan semua yang terlibat terkait fabrikasi penelitian dan pencemaran nama baik ilmuwan Indonesia, tolong fokus pada bentuk tanggung jawab anda.”

Sebagian warganet lain memilih menunggu, meminta agar tidak ada penghakiman sebelum klarifikasi resmi muncul.

Ada pertanyaan yang lebih besar di balik kasus ini dan layak dibahas terpisah: apakah sistem seleksi berbasis abstrak di konferensi internasional cukup untuk mencegah penyalahgunaan? Apakah ada pengawasan yang memadai atas penggunaan travel grant, khususnya yang melibatkan dana negara? Pertanyaan itu sah. Tapi jawabannya perlu proses, bukan arus opini yang melaju lebih cepat dari fakta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *