Warta

Rupiah Terus Turun, Fondasi Ekonomi Masih Baik

catrawarta.com — catrawarta.com – Pemerintah menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen yang menandakan fondasi ekonomi nasional aman dan kuat. Bahkan saat rupiah...

Person draws a rising bar chart on white paper with a marker on a desk with a laptop and financial charts nearby
EKONOMI: Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Sumber: magnific)

catrawarta.comcatrawarta.com – Pemerintah menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen yang menandakan fondasi ekonomi nasional aman dan kuat. Bahkan saat rupiah terus melemah, Menteri Keuangan Purbaya YS menegaskan kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan ketika krisis 1998 yang berujung pada jatuhnya kekuasaan Presiden Suharto.

”Kalau rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah,” ujar Purbaya di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026), dikutip dari detik.com.

Ketika tulisan ini dibuat Selasa (19/5/2026), rupiah turun di Rp 17.727,45 per dolar AS. Dari hari ke hari secara perlahan terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut menurut Presiden Prabowo Subianto tidak menjadi masalah karena masyarakat terutama yang di pedesaan tidak menggunakan dolar.

Menurut Purbaya, kondisi ekonomi 1998 jauh berbeda dengan sekarang. Dulu, sebelum krisis mencapai puncak, ekonomi Indonesia sudah menunjukkan perlambatan hingga akhirnya terperosok ke dalam jurang resesi. Itu terjadi sejak tahun 1997.

Kondisi semakin memburuk, jelas Purbaya dalam keterangannya di detik.com, karena adanya kekeliruan dalam pengambilan kebijakan moneter dan fiskal. Kondisi eksternal yang juga tidak baik-baik saja semakin memperparah kondisi perekonomian.

Fondasi Ekonomi Bagus

Menteri Keuangan berkali-kali menegaskan, fondasi ekonomi nasional dalam kondisi baik. Pemerintah akan terus berusaha menjaga kestabilan dengan memperkuat benteng pertahanan ekonomi makro. Dengan begitu gejolak jangka pendek dapat dihindari dan aktivitas sektor riil tetap berjalan.

Sementara itu, IDNFinancials menuliskan riset terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia. Para pakar meragukan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026.

Guru besar ekonomi, Mohammad Ikhsan dan peneliti makroekonomi Teuku Muhammad Riefky Hasan melihat inkonsistensi internal pada data Badan Pusat Statistik (BPS). Mereka mempertanyakan angka pertumbuhan 5,61 persen sebagai ukuran kesehatan ekonomi.

Data BPS menurut penelitian mereka, menunjukkan adanya inkonsistensi internal terutama pada pertumbuhan nilai-tambah dari sektor Listrik, Gas, dan Air yang terkontraksi 0,99 persen. Pada saat bersamaan, sektor manufaktur menunjukkan pertumbuhan 5,04 persen.

Berdasarkan berbagai tantangan mulai dari risiko gangguan cuaca akibat El Niño dan perang Iran, ekonomi Indonesia hingga akhir tahun secara realistis diperkirakan tumbuh antara 4,0–4,5 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *