Warta

Ziarah Tiga Astana, Penghormatan pada Leluhur

catrawarta.com — Ziarah merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur. Ini sekaligus momentum meneguhkan rasa memiliki, kesetiaan, tanggung jawab, dan cinta terhadap para...

HARI JADI: Jajaran Pemda DIY, juru kunci dan tamu undangan melakukan ziarah leluhur ke tiga astana.(Sumber: Humas Pemda DIY)

catrawarta.comZiarah merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur. Ini sekaligus momentum meneguhkan rasa memiliki, kesetiaan, tanggung jawab, dan cinta terhadap para pemimpin terdahulu di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat maupun Kadipaten Pakualaman yang menjadi cikal bakal tata pemerintahan DIY.

Asisten Bidang Administrasi Umum Setda DIY, Srie Nurkyatsiwi menyampaikan hal itu usai rombongan melangkah khidmat menapaki pelataran makam leluhur di Astana Kotagede, Astana Pajimatan Imogiri, dan Astana Girigondo.

Mereka menandai mulainya rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam suasana hening dan doa yang terlantun, Pemerintah Daerah DIY meneguhkan kembali ikatan sejarah dengan para pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman sebagai akar lahirnya Yogyakarta.

Ziarah diikuti staf ahli gubernur, para asisten sekda DIY, kepala OPD di lingkungan Pemda DIY, para juru kunci dan tamu undangan tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Prosesi diawali pembacaan sambutan Sekretaris Daerah DIY, dilanjutkan doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan atas nilai perjuangan, kepemimpinan, dan pengabdian para leluhur.

Perjuangan Pangeran Mangkubumi

Siwi menuturkan, sejarah mencatat perjuangan Pangeran Mangkubumi dalam menghadapi VOC yang berujung pada Perjanjian Giyanti setelah kurang lebih sembilan tahun peperangan. Peristiwa tersebut menandai berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi DIY.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menyatakan bergabung dan mendukung Republik Indonesia. Sikap loro-lorone atunggal menjadi bukti bahwa pengabdian kepada bangsa dan negara tidak pernah terpisahkan.

”Nilai-nilai luhur tentang keberanian, kepemimpinan, dan pengabdian senantiasa kita teladani dalam membangun Yogyakarta saat ini dan ke depan. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman atas perkenannya sehingga ziarah dapat terlaksana dengan baik dan lancar,” ujar Siwi di Astana Girigondo, Kulon Progo.

Ajakan Mawas Diri

Ia yang juga menjabat Ketua Panitia Hari Jadi ke-271 DIY menambahkan, peringatan tahun ini mengusung tema ”Mulat Sarira Jumangkah Jantraning Laku” yang dimaknai sebagai ajakan untuk mawas diri, melangkah maju secara terarah, serta mewujudkan pembangunan yang terukur dan bertanggung jawab berbasis sejarah, budaya, dan kearifan lokal.

Pada usia ke-271, DIY meneguhkan perannya sebagai daerah istimewa yang adaptif dan inklusif dengan mengajak seluruh elemen masyarakat berkontribusi memperkuat integritas. Juga meningkatkan inovasi, serta menghidupkan nilai spiritual dan budaya dalam setiap gerak pembangunan.

Siwi menambahkan selama dua bulan ke depan, berbagai kegiatan akan digelar. Ada peluncuran logo Hari Jadi ke-271 DIY, penggunaan busana tradisional Yogyakarta, aksi bersih lingkungan, lomba inovasi, hingga pesta rakyat.

”Rangkaian tersebut tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dari aspek budaya, sosial, dan ekonomi,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *