catrawarta.com — Masih tertahannya dua kapal tanker Pertamina Indonesia di Selat Hormuz Iran menjadi catatan penting. Apalagi, kapal tanker milik Malaysia mendapat kemudahan bisa melewati selat tersebut dengan lancar. Semua itu berpulang pada ‘kemahiran’ dalam berdiplomasi.
Nyatanya, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mampu melobi Iran dengan baik. Bahkan, Iran menganggap Malaysia sebagai ‘negara sahabat’. Sebaliknya, negosiasi Indonesia sangat alot, karena diduga adanya perbedaan status hubungan diplomatik di tengah ketegangan konflik di kawasan tersebut.
Anwar Ibrahim secara khusus melobi pihak Iran untuk memberikan izin khusus bagi kapal tanker Malaysia agar tetap bisa beroperasi di Selat Hormuz, yang saat ini menjadi zona berbahaya. Status negara sahabat yang diklaim Malaysia menjadikan Iran memberikan kelonggaran akses kepada Malaysia, termasuk Thailand, India dan Cina.
Sedangkan, Indonesia masih terus melakukan negosiasi intensif melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Teheran agar kapal milik Pertamina bisa mendapatkan izin melintas di selat tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan wilayah yang selama konflik Iran dan Israel serta AS ini, masuk wilayah berisiko tinggi dan Iran sekarang memblokade total akses, kecuali bagi kapal-kapal yang mendapatkan izin khusus.
Terus Lakukan Negosiasi dan Diplomasi
Hingga akhir Maret ini, Indonesia masih terus melakukan negosiasi dan langkah diplomasi dengan otoritas Iran . Hal ini juga dibenarkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia menyebut, Indonesia sudah mulai mendapatkan ‘lampu hijau’ untuk melintas setelah secara intensif melakukan dialog dan diplomasi.
Harapan yang diinginkan setelah mendapatkan lampu hijau agar kapal tanker Pertamina bisa melewati Selat Hormuz adalah jaminan keselamatan pelayaran berupa keamanan fisik dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sehingga kapal Tanker Pertamina dan Gamsunoro tidak mengalami gangguan atau penyitaan selama melintasi titik titik rawan di Selat Hormuz.
Dengan demikian berdampak pada kelancaran pasokan BBM Nasional, terutama jenis pertalite dan solar.
Hal lain yang menjadi catatan dari tertahannya kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz yakni penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara-negara Teluk, termasuk kesepakatan jangka panjang agar kapal Indonesia selalu mendapatkan prioritas di masa krisis.
Sebab, melewati Selat Hormuz lebih efisien dibandingkan harus memutar jauh melewati Afrika yang dapat memicu kenaikan harga BBM di dalam negeri.

Kelaparan di Berbagai Tempat, Manusia Terlalu Banyak Membuang Pangan 