Warta

Risiko Penularan Campak saat Mudik, Tak Perlu Panik tapi Tetap Waspada

catrawarta.com — Penyakit campak kembali melonjak pada awal tahun 2026 meskipun sudah mulai menunjukkan penurunan. Kendati demikian, beberapa daerah menyatakan KLB karena...

Ilustrasi mencegah penularan campak dengan imunisasi dan menggunakan masker serta rajin cuci tangan.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comPenyakit campak kembali melonjak pada awal tahun 2026 meskipun sudah mulai menunjukkan penurunan. Kendati demikian, beberapa daerah menyatakan KLB karena jumlah penderita cukup banyak.

Penularan penyakit campak sangat cepat. Prosesnya seperti ketika pandemi Covid-19 lalu, menular melalui droplet dan udara. Satu penderita ketika berada dalam kerumunan bisa menulari 18 orang lainnya. Karena itu, mereka yang merasakan gejala seperti flu, sebaiknya memakai masker dan tidak berkumpul dengan banyak orang.

Tantangan saat ini, mudik yang tentu menjadi tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai wilayah. Mobilitas tinggi juga menjadi faktor risiko penularan campak. Karena itu, masyarakat harus lebih waspada dan memeriksakan diri ketika mendapati gejala seperti kena campak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr Ari Kurniawati saat melakukan paparan daring menjelaskan tren kasus campak di Yogyakarta menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.

Hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat 73 kasus campak terkonfirmasi, atau meningkat sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kasus paling banyak ditemukan pada anak usia 2-9 tahun.

Kasus lain, sebagian terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi. Ia mengungkapkan dalam talkshow TropmedTalk bertajuk ”Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Haruskah Kita Panik?” gelaran Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM.

Orang Dewasa Juga Rentan

Sementara itu, Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM, dr Ida Safitri Laksanawati SpA(K) menambahkan kerentanan tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dewasa. Ia menegaskan, kuncinya terletak pada kelengkapan dosis vaksin kombinasi Measles and Rubella (MR).

Ia mengatakan, meskipun cakupan vaksinasi dosis pertama di DIY tergolong tinggi, yakni di atas 95 persen, cakupan untuk dosis kedua ternyata masih berada di angka 90 persen. Ketimpangan itu menjadi celah hilangnya kekebalan kelompok.

”Ketika cakupan MR2 tidak optimal, dalam rentang waktu lima tahun ke depan, kadar antibodi orang yang sudah divaksinasi akan menurun,” ujar Ida.

Namun demikian, ia menyarankan masyarakat panik melihat kondisi saat ini. Paling penting, meningkatkan kewaspadaan melalui persiapan yang matang. Ia mendorong pemudik untuk lebih cermat menimbang risiko sebelum bepergian.

Ia mengingatkan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak sebaiknya tidak diajak berkumpul dengan banyak orang. Ini salah satu cara mencegah anak-anak terpapar campak yang bisa menular sangat cepat. Gejala campak mirip seperti gejala flu pada umumnya sehingga akan lebih baik mencegah dengan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *