catrawarta.com — Kepolisian Korea Selatan menyelidiki dugaan penyimpangan dalam penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih kepala tim nasional sepak bola. Ketua Federasi Sepak Bola Korea (KFA), Chung Mong-gyu, diduga mengangkat Hong tanpa melalui proses wawancara resmi maupun persetujuan dewan.
Penyelidikan ini mencuat setelah Korea Selatan secara mengejutkan tersingkir di fase grup Piala Dunia.
Dilansir dari The Standard Hong Kong, polisi Seoul mengungkapkan telah menerima delapan laporan sejak 2024 terkait proses penunjukan Hong. Salah satunya adalah laporan yang diajukan pada Juli tahun lalu yang menuduh Chung menyalahgunakan wewenangnya.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, Komite Penguatan Tim Nasional yang seharusnya bertugas memilih pelatih kepala diduga diabaikan oleh sejumlah petinggi KFA. Akibatnya, Hong ditunjuk tanpa melalui mekanisme yang telah ditetapkan.
Temuan tersebut diperkuat oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan yang menyatakan adanya pelanggaran prosedur dalam proses pengangkatan Hong.
Sementara itu, Pengadilan Administrasi Seoul memutuskan bahwa penunjukan Hong sebagai pelatih kepala dilakukan secara melawan hukum. Pengadilan juga menolak gugatan KFA yang berupaya membatalkan sanksi disiplin terhadap Chung. Meski demikian, federasi telah mengajukan banding atas putusan tersebut.
Polisi menjelaskan penyelidikan baru dapat dipercepat setelah proses hukum di pengadilan administrasi rampung. Saat ini, penyidik tengah mendalami apakah Chung bersama sejumlah pejabat senior KFA menggunakan cara-cara curang atau penyalahgunaan wewenang dalam proses pengangkatan pelatih tim nasional.
Hong Myung-bo mengundurkan diri pada hari yang sama ketika Korea Selatan dipastikan gagal melaju ke babak gugur Piala Dunia. Dengan demikian, kontraknya yang sedianya berakhir setelah Piala Asia pada Januari mendatang harus berakhir lebih cepat. Sebelumnya, Chung Mong-gyu juga telah menyatakan akan mundur dari jabatannya usai Piala Dunia.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, turut angkat bicara melalui media sosial. Menurutnya, kegagalan tim nasional tidak lepas dari proses pemilihan pelatih yang lebih mengedepankan kepentingan kelompok daripada kompetensi.
“Jika pelatih tim nasional dipilih berdasarkan kepentingan kelompok, bukan kemampuan yang sesungguhnya, maka hasil berupa kekalahan telak sudah tidak dapat dihindari,” tulis Lee.
Dalam unggahan lainnya di platform X, Lee menilai tersingkirnya Korea Selatan pada fase grup merupakan cerminan buruknya tata kelola organisasi.
“Kegagalan ini tampaknya merupakan akibat dari lemahnya organisasi dan pengelolaan sumber daya manusia. Ketika favoritisme dan praktik kroni lebih diutamakan daripada kompetensi dalam memilih pemimpin, hasilnya dapat diprediksi, seperti api yang membakar kertas,” ujarnya.
Lee menegaskan pemerintah akan mendorong reformasi menyeluruh di tubuh federasi sepak bola guna mencegah praktik serupa terulang serta memulihkan kepercayaan publik terhadap sepak bola Korea Selatan.
Sebelumnya, dalam konferensi pers di Meksiko, Minggu (28/6), Hong mengumumkan pengunduran dirinya dan mengakui gagal memenuhi harapan publik.
“Kami tidak mampu memberikan hasil yang diharapkan para penggemar,” kata Hong.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para pendukung serta menegaskan bahwa tanggung jawab atas kegagalan tim sepenuhnya berada di pundaknya sebagai pelatih kepala.
“Tanggung jawab ini sepenuhnya berada di pundak saya sebagai pelatih kepala,” ujar Hong.

Komnas HAM Minta Penyelidikan Independen Terkait Kematian 5 Peserta Latsar Militer 