Catra Budaya, Warta

HUT ke-80 Sultan HB X, Lurah & Pamong Akan Melakukan Pisowanan

catrawarta.com — Hari ini Kamis 2 April 2026, gelombang manusia akan bergerak menuju Keraton Yogyakarta. Diperkirakan, 10.000 hingga 12.000 lurah dan pamong...

Buku Bunga Rampai Aspirasi 80 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X: Mendengar Suara Merawat Semesta. Foto: Tor

catrawarta.comHari ini Kamis 2 April 2026, gelombang manusia akan bergerak menuju Keraton Yogyakarta. Diperkirakan, 10.000 hingga 12.000 lurah dan pamong dari seluruh DIY akan melakukan pisowanan dalam rangka HUT ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pisowanan ini bukan sekadar perayaan. Pisowanan ini merupakan peristiwa sosial-politik yang memperlihatkan bagaimana relasi kuasa, tradisi, dan birokrasi bertemu dalam satu panggung.

Negara hadir dalam wajah budaya. Pemerintahan hadir dalam simbol-simbol adat. Para lurah tidak hanya datang sebagai aparatur, tetapi juga sebagai representasi loyalitas kultural kepada raja yang sekaligus gubernur. Di titik ini, Yogyakarta kembali menunjukkan kekhasannya. Struktur modern dan tradisi feodal tidak saling menegasikan, melainkan saling menguatkan.

Namun, di balik romantika budaya itu, ada realitas yang tak bisa diabaikan. Penutupan ruas-ruas strategis seperti Jalan Malioboro, Jalan Panembahan Senopati, hingga kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta menunjukkan satu hal kota ini harus berhenti sejenak untuk memberi ruang pada sebuah peristiwa simbolik. Pertanyaannya sederhana: sampai sejauh mana ruang publik boleh dikorbankan untuk kepentingan seremoni?

Penutupan jalan sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, bahkan khusus Malioboro selama satu hari penuh, akan berdampak langsung pada mobilitas warga, pelaku usaha, dan wisatawan. Aktivitas ekonomi di pusat kota praktis melambat. Di sisi lain, pemerintah mencoba mengantisipasi dengan menyiapkan 16 kantong parkir. Tetapi, apakah itu cukup untuk menampung pergerakan massa sebesar ini?

Di sinilah ujian tata kelola muncul. Event besar bukan hanya soal pengamanan dan seremoni, tetapi juga tentang manajemen dampak. Kota modern dituntut tidak hanya mampu merayakan tradisi, tetapi juga menjaga ritme kehidupan warganya tetap berjalan.

Peristiwa ini juga membuka peluang refleksi yang mendalam. Ketika ribuan lurah berkumpul dalam satu momentum perayaan tokoh yang juga menjadi pemimpin administratif, publik berhak bertanya, apakah ini murni ekspresi budaya, atau ada dimensi simbolik kekuasaan yang sedang dipertontonkan?

Yogyakarta memang istimewa. Tetapi keistimewaan itu justru diuji pada momen-momen seperti ini. Ketika loyalitas kultural bertemu dengan tuntutan demokrasi modern. Ketika penghormatan tradisi berjalan beriringan dengan prinsip efisiensi dan pelayanan publik.

Di tengah arus manusia yang bergerak menuju keraton, Jogja tidak hanya sedang merayakan ulang tahun seorang raja. Jogja sedang mempertontonkan dirinya sendiri—tentang siapa yang berkuasa, bagaimana kuasa itu dirayakan, dan sejauh mana rakyat ikut menanggung konsekuensinya.

Dan di situlah pertanyaan paling penting muncul, apakah keistimewaan ini masih sepenuhnya untuk rakyat, atau justru semakin menjauh dari mereka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *