catrawarta.com — Ada anggapan, ketika sudah menginjakkan kaki di tanah Jawa, sulit untuk kembali. Tetapi, ini tidak berlaku bagi Robert P Fanggidae, lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM. Ia justru memilih kembali untuk membangkitkan harapan masyarakat tanah kelahiran, Nusa Tenggara Timur.
Langkah yang jarang ditemui lulusan kampus besar. Biasanya, mereka yang telah lulus bakal bekerja dan memilih tinggal di tempat mapan. Robert yang masuk kuliah tahun 1989, akhirnya menemukan jalan, membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat tanpa harus berjanjia atau berkoar-koar. Yang penting, langkah pasti.
Melangkah dari bawah, ia perlahan menginisiasi pemberdayaan ekonomi rakyat melalui Bank Perekonomian Rakyat Tanaoba Lais Manekat (TLM). Ia bukan hanya menghadirkan akses keuangan, tetapi membuka lapangan kerja, dan menumbuhkan harapan baru.
Bekerja Formal di Perusahaan
”Saya memulai pekerjaan di Bank Danamon Kupang, lalu bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta sebelum akhirnya pulang ke kampung halaman. Ada sedikit masalah kesehatan,” tutur Robert.
Dirinya menceritakan, keputusan kembali ke Kupang menjadi langkah penting dalam hidupnya, membuka jalan pengabdian yang lebih panjang. Sebelum mengembangkan Bank TLM ia sempat menjadi Manajer KSU Talenta, Kupang dan Wakil Pimpinan Cabang Bank Artha Graha Internasional, Kupang.
Mendirikan BPR TLM bukan perkara mudah. Saat itu, akses informasi sangat terbatas. Robert menghabiskan malam-malam panjang di sebuah warnet sederhana di Kupang untuk mencari berbagai informasi mengenai bank perkreditan rakyat.
Susun Studi Kelayakan
Ia belajar sendiri menyusun studi kelayakan hingga membentuk tim statistik untuk membaca data demografi dan menerjemahkannya menjadi strategi manajerial.
Semula, sebagai Konsultan Pengembangan Yayasan Tanaoba Lais Manekat, ia mendapat tugas menginisiasi pendirian Bank Perkreditan Rakyat. Bersama tim,ia membuat berbagai strategi bisnis dan memproyeksikan keuangan selama lima tahun dalam rangka memperoleh izin prinsip.
Setelah melalui perjalanan panjang selama dua tahun, BPR TLM resmi beroperasi pada 1 Februari 2008 dengan modal awal Rp 1,5 miliar dan 18 karyawan. Dalam 11 bulan pertama, bank ini sudah mencatatkan laba. Per 30 November 2025, aset BPR TLM tumbuh menjadi Rp 298 miliar, dengan 149 karyawan, dua cabang dan dua kantor kas.
Terima Penghargaan Kampus
”Kami memberi akses keuangan bagi pelaku usaha mikro dan masyarakat kecil. Tidak hanya itu, kami menghadirkan terobosan dengan menghadirkan tabungan tanpa biaya administrasi jauh sebelum kebijakan serupa menjadi arus utama,” imbuhnya.
Kini, kehadiran BPR TLM telah menjadi pembuka lapangan kerja lokal, meningkatkan literasi keuangan, serta berkontribusi pada penerimaan pajak daerah. Pada 2024, bank tersebut tercatat sebagai salah satu pembayar pajak terbesar di wilayahnya.
Kerja kerasnya didengar oleh almamaternya. Kampus mengapreasi keberaniannya menumbuhkan harapan bagi perekonomian rakyat sehingga memberinya UGM Alumni Awards 2025 kategori Pelopor Pemberdayaan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Selamat Bung Robert!

Gerhana Matahari Cincin dan Supermoon, Peristiwa Kosmik yang Mudah Berlalu 