catrawarta.com — Sebanyak 19.000 sapi disembelih setiap hari untuk keperluan Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan demikian, harusnya tiap hari ada menu daging sapi untuk penerima MBG. Tapi kenyataannya tidak demikian.
”Jika pada akhir tahun ada 19.000 SPPG, maka ada 19.000 ekor sapi harus dipotong dalam sehari. Sementara jika dilakukan 4 kali sebulan, nahh…tinggal kalikan saja,” ungkap Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof Panjono.
Pernyataan menyembelih 19.000 sapi tiap hari memunculkan pertanyaan masyarakat terutama penerima MBG. Angka sebesar itu perlu dikaji secara rasional dan dijelaskan secara transparan kepada masyarakat karena selama ini belum terbukti kebenarannya.
Panjono menilai klaim menyembelih ribuan sapi tidak sepenuhnya selaras dengan fakta di lapangan, khususnya terkait menu MBG yang sudah beredar. Sangat jarang menu yang menggunakan daging sapi atau empal.
Menurutnya, kalau benar 19.000 ekor sapi dipotong dalam sehari, dan 4 kali dalam sebulan, harusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Namun kenyataannya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, tempe, tahu dan ikan.
”Rasanya perlu pembuktian kebenaran menyembelih 19.000 ekor sapi tiap hari. Belum lagi terkait ketersediaan sapi di Indonesia,” tandas Panjono.
Tetap Harus Berbasis Data
Ia menjelaskan jika 19.000 sapi disembelih setiap hari, dan 4 kali sebulan, berarti 912.000 ekor sapi dipotong selama setahun. Karena itu, tegasnya, program sebesar MBG tetap membutuhkan kebijakan berbasis data dalam perencanaan produksi, penguatan populasi sapi dalam negeri, maupun impor sapi bakalan, agar keberlanjutannya tetap terjaga.
Mengutip data BPS, total populasi sapi 2025 di Indonesia sekitar 13,5 juta ekor. Sementara Kementerian Pertanian mentargetkan swasembada daging sapi pada tahun 2026 dengan proyeksi populasi sapi sebesar 19,96 juta ekor. Terdapat kekurangan 6,46 juta ekor.
Data realisasi impor sapi bakalan anggota GAPUSPINDO menunjukkan pada 2024 terealisasi 475.032 ekor (72,7 persen dari izin impor), dan pada 2025 mencapai 494.995 ekor (83,6 persen dari izin impor). Angka tersebut menunjukkan pasokan sapi bakalan berada pada kisaran ratusan ribu ekor per tahun, bukan jutaan ekor dalam waktu singkat.
”Jadi sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan MBG dan swasembada daging pada tahun 2026. Tetapi kita harus tetap optimistis untuk menuju ke sana. Perlyu upaya yang sangat luar biasa untuk bisa mewujudkannya,” tandas Panjono.
Ia menekankan, peningkatan populasi sapi dalam negeri harus cepat dan tepat. Misalnya melalui pembiakan dengan metode koloni terintegrasi dengan kebun sawit, kebun kelapa, ataupun hutan tanaman industri yang banyak terdapat di Indonesia.

Tempe, Dari Dapur Rakyat Jawa ke Panggung Global 