catrawarta.com — Virus Nipah merupakan virus yang penularannya melalui kelelawar buah. Infeksi virus Nipah umumnya dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara yang terinfeksi, seperti babi dan kuda.
Selain itu, juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan penderita. Penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia, mulai dari radang otak hingga gangguan pernapasan serius yang bisa berakibat fatal.
”Penyebaran virus Nipah pada hewan seperti babi dan kuda kerap menunjukkan gejala pernapasan hingga gangguan saraf, bahkan dapat berujung fatal. Pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” papar pakar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, drh M Th Khrisdiana Putri PhD.
Ia menjelaskan virus Nipah bersifat musiman (seasonal). Menurutnya, kondisi ini juga dipengaruhi faktor stres atau kelaparan pada kelelawar. Ia mencontohkan ketika sumber pakan alami, seperti nira di habitat hutan, berkurang, maka risiko penularan dapat meningkat karena virus menjadi lebih aktif.
Larang Ternak Babi dekat Nira
Khrisdiana menegaskan pemerintah telah melakukan langkah pengamanan melalui regulasi, salah satunya melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah awal dalam pencegahan.
Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan konsumsi nira segar langsung tanpa proses pengolahan. Menurutnya, nira sebaiknya melalui perlakuan terlebih dahulu, seperti pasteurisasi atau pemanasan, dan tidak dikonsumsi secara langsung.
”Pada sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting,” tandasnya.
Virus Mudah Rusak
Virus Nipah, jelas Khrisdiana, tergolong lemah atau mudah rusak. Virus tidak mampu bertahan lama di luar inang sehingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan yang efektif.
Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri.
Meski virus berkembang dan menular antar sesama hewan, tetapi juga berpotensi menyebar ke manusia. Karena itu, perhatian terhadap wabah Nipah sebagai penyakit zoonosis menjadi sangat penting dan perlu dicermati secara serius.
Pola Penularan Klasik
Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh Heru Susetya PhD menambahan secara epidemiologis, kelelawar diketahui sebagai reservoir virus Nipah. Sejarah kemunculan virus yang pertama kali terdeteksi di wilayah Nipah, Malaysia.
Pola penularan awalnya terjadi dari kelelawar ke babi, kemudian dari babi ke manusia, yang disebut sebagai pola klasik. Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia.
”Hal itu karena pengaruh faktor lain, seperti konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik. Bahkan ada juga penularan dari manusia ke manusia. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami dari segi penyakit,” papar Heru.
Ia menyarankan harusnya sudah tersedia sistem peringatan dini (early warning system) terhadap berbagai penyakit zoonosis, termasuk Nipah. Sistem tersebut penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.
”Siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci Utama penanganan,” tandasnya.

RM Saptohoedojo, Sosok Futuristik yang Kuat Riset 