catrawarta.com — Psikolog Syafira Putri Ekayani mengemukakan karakter seseorang dapat dilihat ketika berinteraksi langsung. Dalam komunikasi dengan seseorang akan terlihat sikap yang ditampilkan, pola pikir, dan bahasa tubuh.
“Karakter seseorang dapat dilihat ketika kita berinteraksi langsung dengan mereka. Dari komunikasi yang terjalin, sikap yang ditampilkan, pola pikir, bahasa tubuh, bahkan hobi atau kesukaan serta imajinasi mereka turut mempengaruhi,” kata Psikolog Syafira Putri Ekayanihal dalam wawancara dengan sebuah radio nasional.
Dikatakannya, ada beberapa pendekatan umum dipakai untuk memahami karakter seseorang. Pertama, dari kepribadiannya. Ada satu teori yang terkenal yaitu Big Five Personality, yang meliputi Openness.
Terbuka pada ide baru, kreatif, suka ekplorasi. Conscientiousness: disiplin, terorganisir, bertanggung jawab. Extraversion: aktif bersosialisasi, energik. Agreeableness: empatik, mudah bekerja sama. Neuroticism: mudah cemas, sensitif terhadap stres. Psikolog melihat kombinasi kelima aspek ini untuk memahami karakter seseorang.
Kedua, dari bahasa tubuh dan ekpresi yang meliputi kontak mata, nada bicara, ekpresi wajah, dan gesture. Meski bahasa tubuh juga dipengaruhi faktor budaya dan kondisi emosional, namun bisa membantu untuk memahami karakter seseorang.
Pendekatan ketiga, pola respons emosi. Cara seseorang menghadapi kritik, konflik, kegagalan, tekanan ataupun keberhasilan orang lain merupakan petunjuk kematangan emosi.
Keempat, nilai dan motivasi. Bisa saja ada dua orang melakukan tindakan yang sama tapi masing-masing dilandasi motivasi yang berbeda.
Konsistensi perilaku juga menampakkan sifat asli seseorang. Apa yang tampak hari ini sesungguhnya sudah melalui proses panjang dan menahun. Untuk memahami kebiasaan seseorang seorang psikolog butuh observasi berulang bukan semata kesan pertama.
Manusia adalah mahluk yang unik. Hingga saat ini tidak ada satupun dari berbagai teori psikologi yang ada dapat mendeteksi secara tepat kepribadian seseorang. Semua landasan teori itu hanyalah bantuan. Pemahaman akan profesi dan kemampuan mengasah kepekaan dari psikolog itu sendiri yang nantinya akan menentukan sejauhmana identifikasi sang psikolog telat sasaran.

Pengiriman TNI ke Lebanon Perlu Dukungan Informasi Intelejen yang Kuat 