catrawarta.com — Di sebuah acara peluncuran bandara, Dr. Ryu Hasan, M.B.A., Ph.D., mendengar kalimat yang terdengar sepele, namun dampaknya panjang. “Eh, anak lo jangan masuk jurusan sains. Otaknya otak kanan. Biar di bisnis saja.”
Bagi sebagian orang, ungkapan itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi **Ryu Hasan —dokter, peneliti biologi, dan akademisi—**pernyataan tersebut adalah potret nyata dari satu mitos lama yang terus direproduksi di ruang publik, yaitu pembelahan manusia menjadi ‘otak kiri’ dan ‘otak kanan’.
“Ungkapan seperti ini bukan yang pertama kali saya dengar. Bahkan sejak saya sekolah di Fakultas Kedokteran pada era 1980-an, narasi semacam ini sudah hidup,” ujar Ryu Hasan dalam Kelas Pakar Malaka Project.
Mitos ini mengklaim bahwa manusia dapat diklasifikasikan secara sederhana, otak kiri untuk sains, logika, dan angka. Otak kanan untuk seni, kreativitas, dan emosi. Dari sana lahir kesimpulan gegabah—scientist cukup dengan otak kiri, seniman hidup dari otak kanan. Pertanyaannya, benarkah demikian menurut biologi dan ilmu kedokteran?
Asal-usul Ilmiah yang Disalahpahami
Menurut Ryu Hasan, mitos ini tidak muncul dari ruang kosong. Ia berakar dari riset ilmiah penting yang dilakukan oleh Paul Pierre Broca, dokter dan ilmuwan saraf asal Prancis pada abad ke-19.
Broca (1824–1880) adalah pelopor dalam memahami cara kerja otak manusia. Pada 1861, ia menemukan bahwa pasien yang mengalami kerusakan di area tertentu di lobus frontal kiri mengalami gangguan berat dalam berbicara. Area ini kemudian dikenal sebagai Area Broca.
Sepuluh tahun kemudian, Carl Wernicke menemukan area lain yang berperan dalam pemahaman bahasa—yang kini disebut Area Wernicke. Kedua area ini saling terhubung dan menjadi pusat utama fungsi bahasa manusia.
“Kerusakan di Area Broca menyebabkan afasia motorik—pasien tahu apa yang ingin diucapkan, tapi tidak mampu mengucapkannya. Sementara kerusakan di Area Wernicke menyebabkan afasia sensorik—pasien bisa berbicara, tetapi kata-katanya keliru dan tidak sesuai makna,” jelas Ryu Hasan.
Temuan ini memang menunjukkan bahwa fungsi bahasa dominan berada di satu hemisfer otak—umumnya kiri pada individu dominan tangan kanan. Namun, disinilah kesalahan tafsir bermula.
Ketika Fakta Ilmiah Menjadi Mitos Populer
Ryu Hasan menegaskan, Broca tidak pernah menyatakan bahwa manusia hanya menggunakan satu sisi otaknya. Ia juga tidak pernah membagi manusia menjadi “tipe otak kanan” dan “tipe otak kiri”.
“Broca hanya menjelaskan bahwa kerusakan di sisi kiri berkaitan dengan afasia, dan kerusakan di sisi kanan berkaitan dengan agnosia. Ia tidak pernah mengatakan seniman pakai otak kanan dan ilmuwan pakai otak kiri,” tegasnya.
Namun dalam perjalanan waktu, temuan tersebut disederhanakan secara berlebihan. Psikologi populer, buku motivasi, hingga wacana pendidikan kemudian menggiring pemahaman keliru seolah-olah fungsi otak manusia bekerja secara terpisah dan eksklusif.
Otak Bekerja Bersama, Bukan Terpisah
Secara biologis, memang benar bahwa masing-masing hemisfer otak memiliki spesialisasi tertentu. Kerusakan di hemisfer kanan, misalnya, dapat menyebabkan agnosia—ketidakmampuan mengenali objek, suara, atau pola meskipun fungsi indra masih ada.
Namun, menurut Ryu Hasan spesialisasi tidak sama dengan pemisahan.
“Seorang ilmuwan tidak hanya bekerja dengan angka. Ia membaca pola, grafik, diagram, perubahan visual di mikroskop. Itu semua melibatkan hemisfer kanan,” ujarnya.
Sebaliknya, seniman juga tidak hanya mengandalkan imajinasi visual. Menggerakkan kuas, mengontrol tekanan tangan, dan melakukan gerakan motorik halus justru sangat bergantung pada kerja hemisfer kiri.
Bagi Ryu Hasan mitos otak kanan–otak kiri menjadi problematik ketika digunakan untuk melabeli potensi manusia.
“Scientist hebat dan seniman hebat sama-sama menggunakan otak kanan dan kiri secara optimal,” katanya.
Otak manusia tidak dirancang untuk bekerja secara terpisah. Ia bekerja sebagai satu kesatuan yang kompleks—melibatkan emosi, memori, motorik, logika, dan imajinasi secara bersamaan. Maka, menyederhanakan manusia hanya sebagai “anak otak kanan” atau “anak otak kiri” bukan hanya keliru secara ilmiah, tetapi juga berpotensi membatasi masa depan.

Stres Jangka Panjang Berbahaya, Seimbangkan Aktivitas dan Istirahat 