catrawarta.com — Riuh tepuk tangan membahana di Grha Sabha Pramana, belum lama ini. Di antara ribuan wisudawan yang memadati ruangan, terselip satu wajah belia dengan senyum yang tak henti mengembang.
Ia adalah Tiara Amanda Pramesti Gumay. Bukan hanya ijazah yang ia bawa pulang, tapi juga catatan rekor sebagai wisudawan termuda UGM pada usia 20 tahun, 1 bulan, dan 16 hari.
Saat rata-rata rekan sejawatnya baru menyandang gelar sarjana di usia 23 tahun, Tiara justru melesat jauh di depan. Pencapaiannya bukanlah kebetulan yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari perlombaan panjang melawan waktu yang sudah ia mulai sejak kecil.
Langkah kaki Tiara memang selalu lebih cepat dari anak-anak seusianya. Ia sudah duduk di bangku sekolah dasar saat baru berumur 5,5 tahun.
Setia Memanfaatkan Waktu
Tak berhenti di situ, ritme hidupnya semakin kencang ketika ia memutuskan mengambil program akselerasi di SMA, menuntaskan masa sekolah menengah hanya dalam waktu dua tahun. Ketekunan membawanya menembus gerbang Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM melalui jalur eligible pada 2022 lalu.
”Saya selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar bisa mencapai kemandirian lebih awal,” ungkap Tiara yang menilai kemandirian sebagai fondasi untuk terus memacu diri.
Menjadi yang paling muda di antara kerumunan mahasiswa yang jauh lebih dewasa ternyata menyisakan tantangan tersendiri. Di balik jubah wisudanya, tersimpan cerita tentang kecemasan dan krisis percaya diri. Pada awal perkuliahan, Tiara sempat merasa terasing di tengah teman-temannya yang jauh lebih matang dan siap secara mental.
”Dulu ketika bertemu teman-teman, saya melihat mereka lebih siap dan percaya diri. Waktu awal masuk kuliah, saya punya ambisi tinggi tapi tidak dibarengi rasa percaya diri, itu membuat saya sedikit kesulitan bersosialisasi,” kenang Tiara.
Aktif di Organisasi Mahasiswa
Tiara juga aktif selama kuliah. Ia menceburkan diri dalam hiruk-pikuk organisasi, bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKG dan terjun ke berbagai aksi pengabdian masyarakat.
Di sana, ia beradu argumen dengan jadwal akademik kedokteran gigi yang dikenal sangat padat. Lewat metode trial and error, perlahan menemukan ritme hidup yang pas antara belajar dan berorganisasi.
Dari bangku kuliah dan ruang-ruang organisasi, Tiara memetik pelajaran hidup yang paling berharga. Setiap orang memiliki garis start dan finish yang berbeda. Ia belajar untuk berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain dan mulai menghargai setiap inci kemajuannya.
Ambisi yang tinggi menurutnya penting, tetapi perlu diiringi dengan kesiapan, kesabaran, dan komitmen untuk terus berkembang.

Lebaran Momentum Perkuat Kesadaran Produk Halal di Masyarakat 