Catra Budaya

Syekh Yusuf, Ulama Lintas Benua Ilmu Seluas Cakrawala

catrawarta.com — Pada 23 Mei 1699 ulama besar asal Makassar, Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani, meninggal dunia dengan catatan...

Makam syekh yusuf di cape town afrika selatan sumber literasiislam Com
Makam Syekh Yusuf di Cape Town Afrika Selatan (Sumber: literasiislam.com)

catrawarta.comPada 23 Mei 1699 ulama besar asal Makassar, Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani, meninggal dunia dengan catatan sejarah mengagumkan. Seorang ulama yang memiliki jangkauan dakwah lintas benua dengan ribuan murid, menjadi catatan penting atas peran Nusantara dalam syiar agama Islam.

Lahir pada 3 Juli 1632 dalam tradisi Gowa Sulawesi Selatan. Suku bangsa yang dikenal sebagai kampiun pelayaran dan perdagangan, sekaligus situs penting kejayaan kerajaan Islam di Indonesia bagian timur. Belajar agama dari satu guru ke guru lain hingga usia 18 tahun, kemudian memutuskan hijrah ke Banten. Pada abad XVII Gowa dan Banten merupakan dua kerajaan berbasis maritim yang menentang kehadiran Belanda di Nusantara. Perlu waktu lama bagi kolonial Belanda untuk bisa menaklukkan kedua kerajaan, itupun dengan siasat licik seperti monopoli dan adu domba.

Setelah berguru pada ulama-ulama besar Banten, Syekh Yusuf menunaikan ibadah haji. Lebih dari 20 tahun belajar agama di Timur Tengah, mulai Mekah, Madinah sampai Yaman. Kembali ke Banten, berteman dengan Sultan Ageng Tirtayasa, menjadi ulama dengan ratusan murid. Saat Banten dikalahkan Belanda pada 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka. Di pembuangan pun Syekh Yusuf menjadi guru bagi banyak orang dan tetap berkomunikasi dengan ulama Nusantara. Pada 1694 Syekh Yusuf dibuang ke Afrika Selatan oleh Belanda karena pengaruhnya yang semakin besar.

Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di Afrika Selatan. Dikenang dan dihormati. Masyarakat Afrika Selatan sebagai ulama besar yang membawa pencerahan dan pembangun peradaban. Nilai keutamaan yang dia bawa adalah persaudaraan muslim dengan tetap tegas menentang kolonialisme. Bukan dengan mengangkat senjata semata, seperti saat menjadi panglima di Banten, tetapi menyadarkan arti Islam sebagai bekal jihad atau perjuangan di jalan Allah.

Di kalangan masyarakat Makassar dia dikenal sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa atau Tuan Guru Kita Penyelamat dari Gowa. Di Timur Tengah mendapat gelar Al-Taj Al-Khalwati atau Mahkota dari Tarekat Khalwatiyah. Pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela menyebutnya Putra Terbaik Afrika Selatan. Dan Presiden Soeharto menganugerahi Pahlawan Nasional pada 1995.

Sudah lama kita tidak mendengar kiprah para ulama Indonesia di perkembangan peradaban Islam dunia. Dunia Islam seperti sulit bersatu dan mudah sekali diadu domba Amerika dan sekutunya. Jangankan menjalin ukhuwah menentang neokolonialisme, yang terjadi justru memfasilitasi kepentingan Amerika.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia juga semakin kehilangan taring. Makin ke sini kita melihat para ulama justru seperti berlomba-lomba merapat ke kekuasaan, hal yang mestinya dijaga agar jalannya pemerintahan tidak menyimpang. Alam yang rusak, kemiskinan yang meningkat, korupsi yang menggila dan kepribadian yang jauh dari nilai keutamaan seolah dibiarkan. Ceramah tanpa keteladanan sungguh kesia-siaan belaka.

Bangsa ini kian terjebak dalam laku hidup yang jauh dari moralitas agama. Anehnya, para ulama tak mampu mengambil peran penting untuk menasihati dan mengajak kembali ke ajaran agama agar mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Kisah keteladanan Syekh Yusuf dan para ulama papan atas dunia asal Nusantara jangankan diteladani, dibaca dan dipelajari pun bisa jadi langka dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *