catrawarta.com — Kotagede bukan sekadar nama wilayah di tenggara Yogyakarta. Kotagede adalah jejak awal peradaban Kerajaan Mataram Islam, tempat Panembahan Senopati menanam fondasi kekuasaan yang kelak terbelah menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Di perdikan bumi Mataram inilah denyut ekonomi pernah digerakkan oleh satu komunitas unik. Dia dikenal dengan sebutan “Wong Kalang“—para saudagar ulet yang menghidupi kota dengan jaringan dagang dan ketekunan.
Dari rahim komunitas inilah lahir sosok yang hingga kini masih dikenang yaitu Ki Prawiro Soewarno.
Prawiro Soewarno lahir di Kotagede pada 1873. Ia tidak langsung menjadi legenda. Prawiro Soewarno memulai hidup sebagai anak dari keluarga pedagang yang mapan—status sosial yang tinggi, tetapi bukan jaminan
kesuksesan. Dalam perjalanan hidupnya, jatuh bangun berkali-kali.
Usaha pegadaian warisan keluarga yang dikelolanya berkembang pesat. Namun, justru saat itulah tekanan datang. Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan kebijakan yang membatasi usaha pribumi, termasuk usaha pegadaian milik wong Kalang. Dalam sekejap, bisnis itu runtuh. Ki Prawiro Suwarno bangkrut.
“Dari cerita keluarga, beliau bukan orang yang mudah menyerah. Ketika jatuh, justru di situ terlihat watak aslinya—tangguh dan mau memulai dari nol,” tutur Doddy Yudhista Adams, buyut menantu Ki Prawiro Suwarno sekaligus cucu menantu B.H. Noerijah sebagaimana dituliskan dalam medsos.
Prawiro Soewarno beralih ke usaha kecil—berjualan sayur. Berdagang dari pasar ke pasar, membangun ulang hidupnya dengan cara paling sederhana. Tidak ada gengsi, tidak ada keluhan. Hanya kerja keras. Keteguhan itu menarik perhatian seorang keturunan Belanda yang kemudian memberinya modal. Dari titik inilah arah hidupnya berubah. Ia masuk ke bisnis berlian—bidang yang membutuhkan kejelian, keberanian, dan jaringan luas. Prawiro Soewarno menguasainya.
Dalam waktu tidak lama, namanya melesat. Prawiro Soewarno dikenal sebagai “Raja Berlian dari Tanah Jawa”. Jaringan dagangnya menembus Asia Tenggara. Kekayaannya melimpah. Di Kotagede, ia menjadi simbol kejayaan wong Kalang.
Namun kekayaan tidak selalu menghadirkan ketenangan. Desember 1948, situasi genting menjelang Agresi Militer Belanda II rumah Ki Prawiro Suwarno menjadi sasaran perampokan. Siang hari, sekelompok orang—berpakaian sipil dan militer, wajah dilumuri lumpur—masuk tanpa ragu.
Mereka membawa lari harta dalam jumlah besar. Tidak lama berselang, perampokan kedua terjadi, bahkan lebih besar, saat rumah itu ditinggal mengungsi. “Harta yang hilang itu luar biasa. Dari emas batangan sampai ornamen-ornamen unik. Itu sering diceritakan turun-temurun di keluarga,” ungkap Doddy.
Peristiwa itu memperlihatkan di masa kacau, kekayaan bisa berubah menjadi kerentanan. Di balik kisah dramatis itu, ada sisi lain yang membuat Ki Prawiro Suwarno dikenang—sikapnya yang eksentrik sekaligus simbolik.
Ia pernah mengajukan permintaan yang membuat pemerintah kolonial geram. Prawiro Soewarno ingin melapisi lantai rumahnya dengan koin gulden bergambar Ratu Wilhelmina. Bukan hanya di pendopo, tetapi juga di dalam rumah hingga kamar mandi. Bagi Belanda, itu penghinaan. Bagi Prawiro Suwarno, itu pesan. “Kalau ditafsirkan sekarang, itu bentuk perlawanan. Simbol kekuasaan kolonial ingin ‘ditaruh di bawah kaki’,” jelas Doddy.
Pihak keraton akhirnya turun tangan. Ia diminta tetap menghormati simbol tersebut. Prawiro Suwarno memilih mundur. Ia patuh—bukan karena takut, tetapi karena hormat pada budaya dan otoritas lokal.
Namun cerita tidak berhenti di situ. Konon, ia menyimpan koin-koin gulden itu di salah satu dari tujuh sumur yang ia bangun. Sebuah simbol niat yang tak pernah sepenuhnya padam.
Warisan Ki Prawiro Suwarno tidak hanya berupa cerita. Ia hidup dalam bangunan, dalam ruang, dalam jejak arsitektur.
Di sepanjang Jalan Tegal Gendu, berdiri rumah-rumah Kalang dengan kemewahan yang khas—perpaduan Jawa, Tionghoa, dan Eropa. Salah satunya kini dikenal sebagai Museum Kotagede Intro Living Museum.
“Rumah Kalang itu bukan sekadar rumah. Itu simbol status, tapi juga bukti bagaimana wong Kalang punya selera global sejak dulu,” kata Doddy.
Di sana, sejarah tidak hanya dibaca. Ia bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan. Kisah keluarga ini berlanjut pada generasi berikutnya. B.H. Noerijah—putri sulung Ki Prawiro Suwarno—tidak sekadar mewarisi kekayaan. Ia mewarisi semangat.
Ia menjadi pengusaha emas dan berlian yang sukses, tetapi lebih dari itu, ia memilih berpihak pada republik. Pada masa awal kemerdekaan, ketika negara masih rapuh dan kekurangan dana, ia menyumbangkan 6.000 gulden—jumlah besar pada masa itu. “Yang ditanamkan di keluarga bukan hanya berdagang, tapi juga tanggung jawab sosial. Itu yang diwariskan oleh beliau,” tutur Doddy.
Kontribusinya tidak berhenti di situ. Ia juga terlibat dalam dukungan finansial yang membantu keberlangsungan pemerintahan republik di Yogyakarta, termasuk dalam fase awal pembentukan sistem keuangan nasional yang kelak berkembang menjadi Bank Indonesia.
Prawiro Soewarno dekat dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX—tokoh penting dalam sejarah republik.
Kedekatan itu bukan sekadar relasi sosial, tetapi kerja bersama dalam menjaga republik tetap berdiri. Rumahnya, yang dibangun sekitar 1930-an, kini menjadi bagian dari warisan budaya. Pernah pula disinggahi oleh Hubertus van Mook—menunjukkan betapa besar pengaruh keluarga ini bahkan di mata kolonial.
Bagi Doddy, kisah ini bukan sekadar warisan keluarga. Ini adalah pelajaran hidup. “Yang paling penting bukan seberapa besar kekayaannya, tapi bagaimana ia bangkit, berani, dan tetap punya sikap terhadap zaman,” ujarnya.
Dari pasar sayur hingga pasar berlian.
Dari lantai rumah hingga simbol perlawanan.
Dari harta pribadi hingga dana untuk republik. Kotagede menyimpan semua itu—bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai pelajaran bahwa kejayaan tidak lahir dari kenyamanan. Kejayaan lahir dari keberanian untuk bangkit, beradaptasi, dan berpihak pada zaman.

UTBK Disusupi Joki, Ironi Integritas Generasi Saat Ini 